Kamis, 01 Oktober 2009

Selasa, 03 Maret 2009

Tafsir Singkat Surat Al Falaq

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Setelah sebelumnya kita membahas tafsir surat Al Ikhlash. Saat ini kita akan membahas mengenai tafsir singkat surat Al Falaq. Semoga bermanfaat.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

Zuhud : Meninggalkan Sesuatu Yang Dapat Melalaikan dari Alloh

Penjelasan Hadits 31 Al Arba’in An Nawawiyah
Oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr dalam Fathu Qowil Matin

Dari Abul ‘Abbas, Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ اَحَبَّنِيَ اللهُ وَ اَحَبَّنِيَ النَّاسُ فَقَالَ : - اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ-
حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه وَ غَيْرُهُ بِاَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya, maka aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia’. Beliau lantas bersabda:

‘Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pula terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu’.”

[Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dengan sanad hasan]

Beberapa Pelajaran dari Hadits Di Atas
Pertama
Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tamak dalam melakukan setiap kebaikan, mereka adalah manusia yang terdepan dalam melaksanakan kebaikan daripada yang lainnya. Mereka (para sahabat) betul-betul ingin mengetahui suatu amalan yang dapat menyebabkan mereka mendapat kecintaan Allah dan kecintaan manusia. Oleh karena itu, mereka menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu” menunjukkan bahwa kecintaan Allah diperoleh dengan seseorang zuhud terhadap dunia. Definisi yang paling bagus, ‘zuhud terhadap dunia’ adalah seseorang meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikannya dari mengingat Allah. Definisi ini sebagaimana dinukil dari Al Hafizh Ibnu Rojab ketika beliau menjelaskan hadits ini dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (2/186) dari Abu Sulaiman Ad Daaroniy.
Beliau mengatakan,

“Para ‘alim ulama di Iraq berselisih pendapat mengenai pengertian zuhud. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah menjauhi dari manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan berbagai nafsu syahwat. Ada juga yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan diri dari kekenyangan. Semua definisi ini memiliki maksud yang sama.”

Kemudian Ad Daaroniy mengatakan bahwa beliau cenderung berpendapat bahwa zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikan dari mengingat Allah ‘azza wa jalla. Definis beliau ini sangatlah bagus. Karena definisi yang beliau ajukan telah mencakup makna dan macam-macam zuhud.

Ketiga
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Zuhudlah pula terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu”. Manusia dikenal begitu tamak terhadap harta dan berbagai kesenangan di kehidupan dunia. Kebanyakan manusia sangat kikir untuk mengeluarkan hartanya dan enggan untuk berderma. Padahal Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْراً لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghaabun: 16)

Seharusnya seseorang tidak terkagum-kagum dengan orang yang sangat tamak terhadap dunia dan menampakkan padanya. Jika seseorang merasa cukup dengan apa yang ada pada manusia, dia akan memperoleh kecintaan mereka dan manusia pun akan mencintainya. Jika sudah demikian, maka dia akan selamat dari kejelekan mereka.

Empat
Beberapa faedah berharga dari hadits di atas:

1. Para sahabat sangat bersemangat melakukan sesuatu yang dapat mendatangkan kecintaann Allah dan manusia.
2. Dalam hadits di atas terdapat dalil adanya sifat mahabbah (kecintaan) bagi Allah ‘azza wa jalla.
3. Sesungguhnya kebaikan bagi hamba adalah jika Allah mencintainya.
4. Untuk memperoleh kecintaan Allah dengan zuhud pada dunia.
5. Sesungguhnya jika seseorang zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, maka itu merupakan sebab baginya untuk mendapatkan kecintaan mereka. Dengan zuhud seperti ini akan membuatnya memperoleh kebaikan dan selamat dari berbagai kejelekan manusia.

6 Rabi’ul Awwal 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal

Rabu, 11 Februari 2009

Menyoroti Perayaan Valentine’s Day

Dikirim oleh webmaster, Sabtu 07 Februari 2009, kategori Aqidah
Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 51 Tahun I
.: :.
Cinta adalah sebuah kata yang indah dan mempesona yang hingga sekarang belum ada yang bisa mendefinisikan kata cinta itu sendiri. Meskipun demikian setiap insan yang memiliki hati dan pikiran yang normal tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Maha Suci Dzat Yang telah menciptakan cinta.

Jika kita berbicara tentang cinta, maka secara hakikat kita akan berbicara tentang kasih sayang; jika kita berbicara tentang kasih sayang, maka akan terbetik dalam benak kita akan suatu hari yang setiap tahunnya dirayakan, hari yang selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang yang dimabuk cinta, dan hari yang merupakan momen terpenting bagipara pemuja nafsu.

Sejenak membuka lembaran sejarah kehidupan manusia, maka disana ada suatu kisah yang konon kabarnya adalah tonggak sejarah asal mula diadakannya hari yang dinanti-nantikan itu. Tentunya para pembaca sudah bisa menebak hari yang kami maksud. Hari itu tak lain dan tak bukan adalah "Valentine Days" (Hari Kasih Sayang?).

* Definisi Valentine Days
Para Pembaca yang budiman, mari kita sejenak menelusuri definisi Valentine Days dari referensi mereka sendiri! Kalau kita membuka beberapa ensiklopedia, maka kita akan menemukan definisi Valentine di tiga tempat :

* Ensiklopedia Amerika (volume XIII/hal. 464) menyatakan, "Tanggal 14 Februari adalah hari perayaan modern yang berasal dari dihukum matinya seorang pahlawan kristen yaitu Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M".

* Ensiklopedia Amerika (volume XXVII/hal. 860) menyebutkan, "Yaitu sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisional saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah. Yaitu hari dimana Santo Valentine mengalami martir (seorang yang mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan/keyakinan)".

* Ensiklopedia Britania (volume XIII/hal. 949), "Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup pertama".

* Sejarah Singkat Valentine Days
Konon kabarnya, sejak abad ke-4 SM, telah ada perayaan hari kasih sayang. Namun perayaan tersebut tidak dinamakan hari Valentine. Perayaan itu tidak memiliki hubungan sama sekali dangan hari Valentine, akan tetapi untuk menghormati dewa yang bernama Lupercus. Acara ini berbentuk upacara dan di dalamnya diselingi penarikan undian untuk mencari pasangan. Dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama, para gadis mendapatkan pasangan. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun, sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah sendiri, mereka menulis namanya untuk dimasukkan ke kotak undian lagi pada upacara tahun berikutnya.

Sementara itu, pada 14 Februari 269 M meninggalkan seorang pendeta kristen yang bernama Valentine. Semasa hidupnya, selain sebagai pendeta ia juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan, baik hati dan memiliki jiwa patriotisme yang mampu membangkitkan semangat berjuang. Dengan sifat-sifatnya tersebut, nampaknya mampu membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap penderitaan yang mereka rasakan, karena kezhaliman sang Kaisar. Kaisar ini sangat membenci orang-orang Nashrani dan mengejar pengikut ajaran nabi Isa. Pendeta Valentine ini dibunuh karena melanggar peraturan yang dibuat oleh sang Kaisar, yaitu melarang para pemuda untuk menikah, karena pemuda lajang dapat dijadikan tentara yang lebih baik daripada tentara yang telah menikah. Valentine sebagai pendeta, sedih melihat pemuda yang mabuk asmara. Akhirnya dengan penuh keberanian, ia melanggar perintah sang Kaisar. Dengan diam-diam ia menikahkan sepasang anak muda. Pendeta Valentine berusaha menolong pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin membentuk keluarga. Pasangan yang ingin menikah lalu diberkati di tempat yang tersembunyi. Namun rupanya, sang Kaisar mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh pendeta tersebut, dan kaisar sangat tersinggung hingga sang Pendeta diberi hukuman penggal oleh Kaisar Romawi yang bergelar Cladius II. Sejak kematian Valentine, kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan !!

Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu Santo Valentine.

Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan "Valentine Days"

Sesuai perkembangannya, Hari Kasih Sayang tersebut menjadi semacam rutinitas ritual bagi kaum gereja untuk dirayakan. Biar tidak kelihatan formal, mereka membungkusnya dengan hiburan atau pesta-pesta.

* Hukum Islam tentang Perayaan Valentine Days
Dalam Islam memang disyari’atkan berkasih sayang kepada sesama muslim, namun semuanya berada dalam batas-batas dan ketentuan Allah -Ta’ala- . Betapa banyak kita dapatkan para pemuda dan pemudi dari kalangan kaum muslimin yang masih jahil (bodoh) tentang permasalahan ini. Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang tidak mau peduli dan hanya menuruti hawa nafsunya. Padahal perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine Days) haram dari beberapa segi berikut :

* Tasyabbuh dengan Orang-orang Kafir
Hari raya –seperti, Valentine Days- merupakan ciri khas, dan manhaj (metode) orang-orang kafir yang harus dijauhi. Seorang muslim tak boleh menyerupai mereka dalam merayakan hari itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata, "Tak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama), karena mencocoki mereka dalam seluruh hari raya berarti mencocoki mereka dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagaian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang kekufuran. Bahkan hari raya adalah ciri khas yang paling khusus di antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang paling nampak. Tak ragu lagi bahwa mencocoki mereka dalam hal ini terkadang berakhir kepada kekufuran secara global".[Lihat Al-Iqtidho’ (hal.186)].

Ikut merayakan Valentine Days termasuk bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir. Rasululllah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut". [HR. Abu Daud dalam Sunan-nya (4031) dan Ahmad dalam Al-Musnad (5114, 5115, & 5667), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (19401 & 33016), Al-Baihaqiy dalam Syu’ab Al-Iman (1199), Ath-Thobroniy dalam Musnad Asy-Syamiyyin (216), Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihab (390), dan Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (848). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Musykilah Al-Faqr (24)].

Seorang Ulama Mesir, Syaikh Ali Mahfuzh-rahimahullah- berkata dalam mengunkapkan kesedihan dan pengingkarannya terhadap keadaan kaum muslimin di zamannya, "Diantara perkara yang menimpa kaum muslimin (baik orang awam, maupun orang khusus) adalah menyertai (menyamai) Ahlul Kitab dari kalangan orang-orang Yahudi, dan Nashrani dalam kebanyakan perayaan-perayaan mereka, seperti halnya menganggap baik kebanyakan dari kebiasaan-kebiasaan mereka. Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu membenci untuk menyanai Ahlul Kitab dalam segala urusan mereka…Perhatikan sikap Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti ini dibandingkan sesuatu yang terjadi pada manusia di hari ini berupa adanya perhatian mereka terhadap perayaan-perayaan, dan adat kebiasaan orang kafir. Kalian akan melihat ,ereka rela meninggalkan pekerjaan mereka berupa industri, niaga, dan sibuk dengan ilmu di musim-musim perayaan itu, dan menjadikannya hari bahagia, dan hari libur; mereka bermurah hati kepada keluarganya, memakai pakaian yang terindah, dan menyemir rambut anaka-anak mereka di hari itu dengan warna putih sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi, dan Nashrani. Perbuatan ini dan yang semisalnya merupakan bukti kebenaran sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits shohih, "Kalian akan benar-benar mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka". Kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani". Beliau menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka". [HR. Al-Bukhoriy (3456) dari Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu-]".[Lihat Al-Ibda’ fi Madhorril Ibtida’ (hal. 254-255)]

Namun disayangkan, sebagian kaum muslimin berlomba-lomba dan berbangga dengan perayaan Valentine Days. Di hari itu, mereka saling berbagi hadiah mulai dari coklat, bunga hingga lebih dari itu kepada pasangannya masing-masing. Padahal perayaan seperti ini tak boleh dirayakan. Kita cuma punya dua hari raya dalam Islam. Selain itu, terlarang !!.

* Pengantar Menuju Maksiat dan Zina
Acara Valentine Days mengantarkan seseorang kepada bentuk maksiat dan yang paling besarnya adalah bentuk perzinaan. Bukankah momen seperti ini (ValentineDays) digunakan untuk meluapkan perasaan cinta kepada sang kekasih, baik dengan cara memberikan hadiah, menghabiskan waktu hanya berdua saja? Bahkan terkadang sampai kepada jenjang perzinaan.

Allah -Subhanahu wa Ta’la- berfirman dalam melarang zina dan pengantarnya (seperti, pacaran, berduaan, berpegangan, berpandangan, dan lainnya),

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk". (QS. Al-Isra’ : 32)

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَايَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ

"Jangan sekali-sekali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4935), dan Muslim dalam Shohih-nya (1241)] .

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يِمَسَّ امْرَأَةً لَاتَحِلُّ لَهُ

"Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya". [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (486). Di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah (226)]

* Menciptakan Hari Rari Raya
Merayakan Velentine Days berarti menjadikan hari itu sebagai hari raya. Padahal seseorang dalam menetapkan suatu hari sebagai hari raya, ia membutuhkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena menetapkan hari raya yang tidak ada dalilnya merupakan perkara baru yang tercela. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak” [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih -nya (2697)dan Muslim dalam Shahih -nya (1718)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. [HR. Muslim dalam Shahih -nya (1718)]

Allah -Ta’ala- telah menyempurnakan agama Islam. Segala perkara telah diatur, dan disyari’atkan oleh Allah. Jadi, tak sesuatu yang yang baik, kecuali telah dijelaskan oleh Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Demikian pula, tak ada sesuatu yang buruk, kecuali telah diterangkan dalam Islam. Inilah kesempurnaan Islam yang dinyatakan dalam firman-Nya,

"Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu". (QS.Al-Maidah :3 ).

Di dalam agama kita yang sempurna ini, hanya tercatat dua hari raya, yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha. Karenanya, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengingkari dua hari raya yang pernah dilakukan oleh orang-orang Madinah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada para sahabat Anshor,
قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِيْ الجَاهِلِيَةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحَرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari, kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah. Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu: hari Nahr (baca: iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: iedul fatri)”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1134), An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (3/179), Ahmad dalam Al-Musnad (3/103. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1134)] .

Syaikh Amer bin Abdul Mun’im Salim-hafizhahullah- berkata saat mengomentari hadits ini, "Jadi, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang mereka -dalam bentuk pengharaman- dari perayaan-perayaan jahiliyyah yang dikenal di sisi mereka sebelum datangnya Islam, dan beliau menetapkan bagi mereka dua hari raya yang sya’i, yaitu hari raya Idul Fithri, dan hari raya Idul Adh-ha. Beliau juga menjelaskan kepada mereka keutamaan dua hari raya ini dibandingkan peryaan-perayaan lain yang terdahulu ".[Lihat As-Sunan wa Al-Mubtada’at fi Al-Ibadat (hal.136), cet. Maktabah Ibad Ar-Rahman, 1425 H]

Sungguh perkara yang sangat menyedihkan, justru perayaan ini sudah menjadi hari yang dinanti-nanti oleh sebagian kaum muslimin terutama kawula muda. Parahnya lagi, perayaan Valentine Days ini adalah untuk memperingati kematian orang kafir (yaitu Santo Valentine). Perkara seperti ini tidak boleh, karena menjadi sebab seorang muslim mencintai orang kafir.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 51 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

(Dikutip dari http://almakassari.com/?p=231#more-231, judul asli "Menyorot Perayaan Valentine’s Day")

Senin, 09 Februari 2009

Kapan sebuah hadits dikatakan sebagai hadits shahih?

Hadits ada yang shahih dan ada yang daif. Kriteria apa saja sehingga sebuah hadits dapat dikatakan sebagai hadits yang shahih? Berikut ulasan singkat


Untuk mengetahui apakah sebuah hadits merupakan hadits shahih atau hadits daif diperlukan sebuah ilmu yang dikenal dengan ilmu mustholah hadits. Banyak kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama ahli hadits yang membahas tentang ilmu mustholah hadits ini.

Untuk menyederhanakan pembahasan agama, sering yang kita baca atau dengar dari sebuah hadits hanya matan/isi dari sebuah hadits, padahal sebenarnya para ulama ahli hadits meriwayatkan tidak hanya matan/isi akan tetapi juga sanad/periwayatan (urutan periwayatan hadits dari Rasulullah saw atau sahabat sampai kepada para ulama penulis hadits). Jadi dalam teks hadits yang lengkap terdiri dari 2 bagian:
Sanad/periwayatan
Matan/isi
Dr. Mahmud Thahan dalam kitab beliau, Taisir Musthalah Hadits menjelaskan sarat-sarat sebuah hadits dihukumi sebagai hadits shahih.

Sanadnya tersambung, artinya setiap rawi mengambil haditsnya secara langsung dari orang di atasnya, dari awal sanad hingga akhir sanad

Adilnya para perawi, yaitu setiap periwayat harus: muslim, baligh, berakal, tidak fasik, dan tidak buruk tingkah lakunya

Dlabith, yaitu setiap rawi harus sempurna daya ingatnya, baik dalam hafalan atau catatan.

Tidak syadz, yaitu tidak menyilisihi dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih tsiqah

Tidak ada illat, yakni haditsnya tidak cacat.

Sebagai contoh, sebuah hadits dalam Shahih Bukhari

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ


Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf, yang berkata telah mengkabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jabir bin Muth’im, dari bapaknya, yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw membaca surat At-Thur di waktu shalat maghrib” (HR. Bukhari, No 731)

Hadits diatas dihukumi sebagai hadits shahih karena:

Sanadnya tersambung, sebab masing-masing periwayat yang meriwayatkan telah mendengar haditsnya dari syaikhnya (gurunya). Sedangkan adanya 'an'anah yaitu Malik, Ibnu Syihab dan Ibnu Jabir termasuk bersambung karena mereka bukan mudallis

Para periwayat hadits diatas semuanya adil dan dlabith. Kriteria mengenai mereka (para perawi hadits) telah ditentukan oleh para ulama Jarh wa Ta’dhil, yaitu:
-Abdullah bin Yusuf: orangnya tsiqah (terpercaya) dan mutqin (cermat)
-Malik bin Anas: Imam sekaligus hafidz
-Ibnu Syihab Az-Zuhri: orangnya faqih, hafidz, disepakati tentang ketinggian kedudukan dan kecermatannya
-Muhammad bin Jabir: tsiqah
-Jabir bin Muth’im: sahabat

Tidak syad, karena tidak bertentangan dengan perawi yang lebih kuat

Tidak ada illat (cacat) dalam hadits diatas
Untuk mengetahui keadilan dan kedlabithan para perawi dengan cara meneliti biografi mereka. Para ulama telah menulis biografi para perawi dalam kitab yang banyak, diantara kitab-kitab yang memuat biografi para perawi hadits yaitu:
Tarikh Kabir, karya Imam Bukhari. Kitab umum yang memuat para perawi tsiqah maupun yang dhaif

Al-Jarh wa ta’dhil karya Ibnu Abi Hatim. Kitab umum yang memuat para perawi tsiqah maupun yang dhaif

Al-Kamil fi Asmair Rijal karya Abdul Ghani. Kitab ini membahas perawi hadits yang terdapat dalam kitab Kutubus Sittah

Dan lain-lain

Ilmu Mustholah hadits hanya ada dalam agama Islam sehingga ajaran Islam dapat dijamin keasliannya secara ilmiah, alhamdulillah

Mudah-mudahan penjelasan ini tidak memuaskan sehingga pembaca semakin bersemangat untuk mengkaji lebih dalam

Referensi
Taisir Musthalahal Hadits, karya Dr. Mahmud Thahan
http://www.almeshkat.net/books/open.php?cat=9&book=2752

SYARAT SUATU AMALAN DIKATAKAN MENCOCOKI SUNNAH

Suatu amalan akan diterima jika ikhlas dan sesuai Sunnah. Berikut rincian suatu ibadah dikatakan sesuai sunnah.


Ketahuilah bahwa mutaba'ah tidak akan terwujud apabila amalan tersebut tidak sesuai dengan syari'at dalam enam hal:
1. Sebabnya
2. Jenisnya
3. Ukurannya
4. Teknisnya
5. Waktunya
6. Tempatnya

Apabila tidak sesuai dengan syari'at dalam enam hal ini, maka amalan tersebut dikatakan bathil dan tertolak, sebab ia melakukan suatu hal dalam agama Allah yang tidak ada sandaran darinya.

1. Sebabnya
Amalan harus sesuai dengan syari'at dalam sebabnya. Hal itu seperti seseorang melakukan ibadah dengan yang tidak pernah Allah sebutkan, misalkan; dia shalat dua raka'at setiap kali memasuki rumahnya dan menjadikan hal ini sebagai perbuatan Sunnah. Seperti ini tertolak. Walaupun perkara shalat pada dasarnya disyari'atkan, tetapi ketika ia kaitkan dengan sebab yang tidak bersumber dari syar'at, maka hal ini mengakibatkan ibadah tersebut tertolak. Contoh yang lain: apabila seseorang membuat perayaan dengan sebab kemenangan kaum Muslimin pada Badar, maka hal ini pun tertolak, sebab ia mengaitkannya sebab yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

2. Jenisnya
Bila seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah tidak pernah disyari'atkan agama dalam hal jenisnya, maka tidak akan diterima. Sebagai contoh: bila seseorang berkurban dengan kuda, maka hal ini tertolak, sebab menyelisihi perintah syariat dalam hal jenis, dimana syar'at Islam memerintahkan harus dari jenis binatang ternak tertentu, yaitu: unta, sapi dan kambing. Adapun seseorang yang memotong kuda dengan niat mensadaqahkan dagingnya maka hal itu diperbolehkan, sebab ia tidak dikatakan berkurban kepada Allah dengan menyembelihnya, hanya menyembelihnya untuk dishadaqahkan dagingnya.

3. Ukurannya
Apabila seseorang beribadah kepada Allah dengan ukuran yang lebih dari ukuran yang telah ditentukan syari'at maka hal itu tidak diterima. Sebagai contoh: bila seseorang berwudhu' dengan membasuh setiap bagian sebanyak empat kali, maka yang keempat tertolak, sebab hal itu melebihi ketentuan syari'at. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam berwudhu' tiga kali-tiga kali, lalu beliau bersabda:
مَنْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ
“Barangsiapa yang melebihkannya, maka ia telah berbuat jelek, melampaui batas dan berbuat kezhaliman (HR. Ahmad, An-Nasaai, Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)


4. Sesuai teknisnya
Apabila seseorang mengamalkan sesuatu dalam rangka beribadah kepada-Nya tetapi menyelisihi syari'at dalam hal teknisnya, maka tidak akan diterima, dan hal itu tertolak. Contoh: seseorang shalat, ia langsung bersujud sebelum melakukan ruku', maka shalatnya tidak sah dan tertolak, sebab tidak sesuai dengan teknis tuntunan syari'at. Demikian pula dalam hal wudhu' dengan cara berbalik seperti memulai dengan membasuh kaki sebelum mengusap kepala setelah itu membasuh tangan lalu muka, apabila berwudhu' dengan teknis seperti ini maka tidak sah, sebab tidak mengikuti perintah syari'at dalam hal teknis atau tata-caranya.

5. Sesuai dengan syari'at dalam hal waktunya.
Bila seseorang shalat sebelum masuk waktunya, maka shalatnya tidak mungkin diterima sebab ia menyelisihi waktu yang telah ditentukan syari'at. Juga bila menyembelih kurban sebelum mengadakan shalat `Id, inipun tertolak, sebab menyelisihi waktu yang telah ditentukan syari'at. Apabila seseorang beri'tikaf pada selain waktunya, maka hal itu tidak sesuai dengan pedomannya, namun hal ini diperbolehkan sebab Rasulullah ', membolehkan `Umar bin al-Khaththab beri'tikaf di Masjidil Haram ketika beliau bernadzar. Apabila seseorang mengakhirkan suatu ibadah yang telah ditentukan waktunya oleh syari'at tanpa adanya alasan yang dibenarkan, seperti shalat Shubuh setelah terbit matahari tanpa udzur, maka (dengan sikap seperti ini) shalatnya tertolak, sebab ia telah beramal dengan amalan yang tidak bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

6. Sesuai dalam ketentuan
Apabila seseorang beri'tikaf di sekolah atau di rumah, bukan di mesjid, maka amalannya ini tidak sah, sebab tidak sesuai dengan tuntunan syari'at dalam ketentuan tempatnya, di mana ibadah I'tikaf harus dilakukan di masjid.

Maka perhatikanlah keenam hal di atas dan wujudkanlah dalam setiap yang diwajibkan kepadamu. Berikut ini beberapa permisalan di antara perkara yang tertolak sebab menyelisihi ketentuan Allah dan Rasul-Nya:

Contoh 1.
Orang yang berjual beli setelah adzan kedua pada hari Jum'at dan ia termasuk golongan yang diwajibkan menghadiri shalat jum'at, maka akad transaksinya tidak sah, sebab ia menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan apabila hal ini terjadi maka wajib dibatalkan, masing-masing mengembalikan uang dan barangnya. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat bahwa ketika Rasulullah saw dikabarkan bahwa kurma yang baik sebanyak satu sha' ditukar dengan dua sha' (yang jelek), dua sha' dengan tiga sha'. Seketika Rasulullah bersabda: Kembalikan! Artinya kembalikan barang dagangannya, sebab telah menyelisihi ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Contoh 2.
Seseorang wanita menikahkan dirinya tanpa adanya wali, maka pernikahannya pun tidak sah, sebab Rasulullah saw bersabda: Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali

Contoh 3.
Seseorang yang mentalak isterinya dalam keadaan haid, apakah talaknya dianggap atau tidak? Jawab: dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Tatkala seseorang mengatakan kepada Imam Ahmad rahimahullah, pendapat bahwa talak ketika
sang isteri sedang haid dibolehkan (terjadi), seketika beliau berkata Itu pendapat jelek. Inilah perkataan Imam Ahmad rahimahullah yang ilmunya sangat piawai dalam hadits dan fiqih, beliau mengingkari perkataan tersebut. Demikian pula sebagian ulama ada yang mengingkari pendapat bahwa talak di saat haidh tidak terjadi, mereka berpendapat sebaliknya, yakni bahwa hal itu terjadi dan dianggap talak satu. Namun ada juga yang berpendapat bahwa hal itu tidak terjadi, srperti pendapatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, walhasil ini termasuk masalah khilafiyyah (diperselisihkan).
Saya menyebutkannya di sini dengan maksud jangan sampai orang-orang gampang menfatwakan tidak menganggap terjadinya talak diwaktu haid, bahkan kalian harus memberlakukan hukum tersebut kepada mereka sebagaimana mereka sengaja melakukannya. Meskipun talak dengan lafazh tiga kali dengan satu ucapan, pada masa Rasulullah saw, Abu Bakar, dan dua tahun masa pemerintahan `Umar dihitung satu kali. Namun ketika manusia berani (menyepelekan) perkara yang haram, maka `Umar radhiallahu’anhu.menghukumi mereka dengan menjatuhkannya (menganggapnya tiga kali), seraya beliau berkata: Engkau tidak boleh kembali kepada isterimu, sebab kamu sendiri yang menyengaja menceraikannya tiga kali. Saya pun setuju dengan pendapat ini (dianggap terjadi), sebab kebanyakan manusia sekarang suka mempermainkannya, di saat orang awam datang dan mengatakan bahwa dirinya telah menceraikan isterinya dalam keadaan haidh sejak sepuluh tahun yang lalu, dan Anda katakan padanya; Hal itu dianggap terjadi, lantas ia berkata padamu: Itu hanya talak di waktu haid dan dianggap talak bid'ah. Orang ini mengatakan demikian padahal dirinya awam. la tidak tahu mana pergelangan tangan di antara kumpulan manusia (ungkapan yang menunjukkan kebodohannya), dan ia mengatakan demikian sebab hawa nafsunya.
Apakah mungkin kita fatwakan bahwa talak Anda tidak terjadi?! Jawab: Tidak mungkin kita lakukan demikian, sebab di pundak kita pertanggungjawaban yang sangat agung di hari Kiamat kelak. Bahkan kita katakan padanya: Anda telah mewajibkan diri Anda, maka hal itu harus Anda ikuti. Bagaimana menurutmu apabila isterimu telah habis masa `iddahnya dari penceraian itu dan ia menikah dengan laki-laki lain, apakah kamu akan mendatangi suami barunya dan berkata: `Perempuan ini isteri saya?!!' Tentu Anda tidak akan berkata seperti ini. Maka apabila dia berpendapat bahwa talak tiga itu berlaku (seperti pendapat kami), maka tentunya ia tidak akan membuka pintu (thalak) ini (untuk dipermainkan).
Walhasil, talak dalam keadaan haidh mayoritas ulama menyatakannya berlaku. Dan pendapat yang mengatakan sebaliknya, Imam Ahmad mengomentarinya dengan perkataan beliau: Ini pendapat yang buruk, artinya tidak pantas untuk dijadikan pedoman.

Contoh 4.
Seseorang menjual satu uqiyah (ukuran) emas dengan satu setengah uqiyah, maka yang seperti ini dikatakan jual beli yang bathil (tidak sah), sebab Rasulullah saw bersabda:
Jangan kalian menjual emas dengan emas kecuali dengan ukuran dan berat yang sama
(HR. Bukhari, Muslim)

Contoh 5.
Seseorang shalat dengan mengenakan baju curian. Mayoritas ulama mengatakan: shalatnya sah, sebab larangan di sini tidak berkaitan dengan shalat tetapi larangannya hanya tentang mencuri baju. Apakah baju itu dipakai untuk shalat atau tidak, maka tidak berkaitan dengan shalat. Nabi saw sendiri tidak mengatakan: Janganlah kalian shalat dengan mengenakan baju curian. Beliau hanya melarang mencuri dan mengharamkannya dan tidak mengaitkannya dengan masalah shalat.

Contoh 6
Seseorang shalat sunnah tanpa adanya alasan pada saat waktu larangan shalat, maka amalannya ini tertolak sebab hal itu terlarang baginya.

Contoh 7.
Seseorang puasa pada hari raya `Idul Fithri, maka puasanya tertolak sebab ia melakukannya pada waktu larangan baginya.

Contoh 8.
Seseorang berwudhu' dengan air curian, maka hal itu tetap sah, sebab larangan di sini berkenaan dengan mencuri air. tidak berkenaan langsung dengan wudhu' dengan air tersebut. Apabila larangan dimaksud berkenaan dengan wujud ibadah itu sendiri, maka ibadah ini tidak sah. Tetapi bila larangan ini bersifat umum, maka hal itu tidak berkait dengan sah atau tidaknya suatu ibadah.

Contoh 9
Seseorang mencurangi temannya dengan cara menipunya dalam hal jual beli, maka hasil jual belinya tetap dikatakan sah, sebab larangan di sini hanya berkisar tentang tipu-menipu. Apabila orang yang tertipu ini menerima hasil jual belinya, maka hal itu tetap dikatakan sah. Rasulullah saw bersabda:

Janganlah kalian menghadang al jalab (sebelum sampai ke pasar). Apabila kalian menemui (jalab) dan membeli sesuatu darinya, kemudian majikannya (orang kampung yang membawa jalab itu) mendatangi pasar, maka harus dilakukan pilihan (tawar menawar) kembali. (HR. Muslim)

Al jalab adalah barang-barang yang dibawa oleh orang Arab perkampungan berupa hewan ternak, bahan makanan dan selainnya, [di mana mereka tidak mengetahui harga pasaran dari barangbarang dagangannya]. Dalam hal ini Rasulullah tidak mengatakan: Maka jual belinya bathil (tidak sah), bahkan telah sah, namun orang yang dihadangnya (orang kampung itu) berhak untuk mengadakan tawar-menawar harga lagi, karena ia menjadi pihak yang telah dirugikan.

Harus dibedakan antara larangan yang berkaitan dengan wujud suatu amalan dengan sesuatu yang tidak berkaitan dengannya. Apabila berkaitan dengan wujudnya, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu tertolak (tidak benar), sebab jika Anda memaksanya menganggap benar, berarti Anda menentang Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika berkait dengan sesuatu di luar amalan, maka amalan tersebut tetap dikatakan shahih, dan dosa dalam amalan yang Anda amalkan (berupa menipu atau mencuri) adalah diharamkan (dengan dalil tersendiri).

Contoh 10.
Seseorang berhaji dengan harta curian, misalkan dengan mencuri unta kemudian berhaji dengan hasil penjualannya. Hajinya tetap shahih, dan inilah pendapat mayoritas ulama, akan tetapi dirinya berdosa dengan mencuri unta tersebut, atau dengan mencuri mobil misalkan. Sebab perbuatan mencuri ini ada di luar ibadah tersebut. Bukti (bahwa biaya haji itu di luar ibadah hajinya), ialah terkadang ada seseorang yang berhaji tanpa mengunakan biaya kendaraan. Sebagian ulama menghukuminya dengan tidak shahih, dan keputusan mereka ini dilantunkan dalam satu bait syair:

إذا حججتَ بمالٍ أصلُهُ سُحْتٌ
ضفما حججتَ ولكنْ حجَّتِ العيرُ

Jika kamu berhaji dengan harta yang asalnya dosa (haram)
Maka kamu tidak berhaji, akan tetapi untanyalah yang berhaji.

Dalam riwayat Muslim:Siapa yang melakukan suatu amalan (ibadah) yang-bukan urusan (agama) kami, maka hal itu tertolak. Dalam riwayat ini tersurat bahwa apabila dalam suatu amalan tidak berlandaskan pada perintah Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu secara pasti akan tertolak. Dalam masalah ibadah, tanpa diragukan lagi ketentuan ini berlaku, sebab perkara ibadah berpatokan pada prinsip yang baku (bahwa pada asalnya dilarang), hingga adanya dalil yang menjadikannya disyari'atkan.

Jika ada seseorang mengadakan satu bentuk peribadatan kepada Allah Ta'ala, lalu orang lain mengingkarinya, kemudian ia balik bertanya: Apa dalilmu kalau hal itu perbuatan haram? Sanggahan seperti ini jelas mungkarnya. Maka pengingkar harus berkata: Dalilnya adalah bahwa pada dasarnya ibadah itu hukumnya terlarang, hingga adanya dalil yang mensyari'atkannya. Adapun pada selain ibadah (mu'amalah), hukum asalnya adalah boleh (selama tidak ada dalil yang melarangnya), baik yang berkaitan dengan pelakunya maupun perbuatannya, karena pada dasarnya berhukum halal/boleh.

Contoh pelaku (perbuatan selain ibadah), misalnya: seseorang memburu burung untuk memakannya, lalu orang lain mengingkarinya. Kemudian ia menyanggah: Apa dalil keharamannya? Sanggahan dia benar, sebab asal hukum berburu burung adalah halal, berdasarkan firman Allah Ta'ala:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (QS. Al-Baqarah: 29)

Contoh perbuatan pada selain ibadah yang hukum asalnya halal: si A mengerjakan sesuatu di rumahnya atau pada mobilnya, pakaiannya atau apa saja yang berkaitan dengan perkara dunia, kemudian si B mengingkarinya. Lalu si A menyanggah dan bertanya: Apa dalilmu mengharamkan perbuatan saya? Ucapanya A dibenarkan sebab asal perbuatannya dihalalkan.

Inilah 2 kaidah yang sangat penting dan bermanfaat (yaitu bahwa ibadah itu hukum asalnya dilarang, sampai ada dalil yang melegalkannya. Sebaliknya, muamalah itu pada asalnya diperbolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya.

Atas dasar ini, dalam masalah ibadah kita harus memperhatikan tiga kesimpulan
1. Apa yang kita ketahui bahwa syariat membolehkan suatu ibadah, maka itu berarti disyariatkan
2. Apa yang kita ketahui bahwa syariat melarangnya, maka berarti hal itu terlarang
3. Apa yang tidak kita ketahui bahwa suatu hal tidak termasuk ibadah, maka hal itu terlarang

Adapun dalam masalah muamalah, kitapun harus memperhatikan 3 tiga kesimpulan
1. Apa yang kita ketahui bahwa syariat membolehkannya, maka hal itu berarti boleh, seperti amalan Rasulullah saw memakan keledai liar
2. Apa yang kita ketahui bahwa syariat melarangnya, maka hal itu berarti dilarang
3. Dan apa yang tidak kita ketahui ketentuan hukumnya, maka hal itu berarti dibolehkan, sebab hukum asal pada selain ibadah adalah boleh.

Syarh Arbain Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


©copyleft 2001-2006 Perpustakaan-Islam.Com

Kapan berdoa dengan mengangkat tangan?

Hukum berdoa pada asalnya dengan mengangkat tangan, akan tetapi disana ada beberapa pengecualian. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Arba’in Nawawiyah


Hukum berdoa pada asalnya dengan mengangkat tangan, akan tetapi disana ada beberapa pengecualian. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Arba’in Nawawiyah

Mengangkat tangan dalam berdoa dibagi kepada tiga keadaan.

1. Riwayat menyebutkan bahwa beliau mengangkat kedua tangannya.
2. Riwayat menyebutkan bahwa beliau tidak mengangkat kedua tangannya.
3. Riwayat tidak menyebutkan keduanya.

Contoh keadaan pertama:
Jika sang khatib berdo'a ketika shalat Istisqa' (meminta hujan) atau istish-ha, maka dalam keadaan ini ia dibolehkan mengangkat kedua tangannya, demikian juga para makmum. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, yaitu kisah seorang Arab dusun (A'rabi). Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam khutbah Jum'at, ia meminta kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk dimintakan kepada Allah hujan, lalu beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdo'a, demikian pula para Sahabat ridwanullahu ajma’in, mengangkat tangan mereka seraya berdo'a bersamanya (HR. Bukhari, HR. Muslim)

Hadits lain menunjukkan dibolehkannya hal ini dalam Qunut Nazilah (karena terjadi perkara yang genting), atau ketika shalat sunnah Witir, juga ketika berada di Shafa dan Marwah, ketika di padang `Arafah, dan saat yang lainnya (berdasarkan riwayat dari beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam), dan perkara ini jelas adanya.

Contoh keadaan kedua:
Riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdo'a, yaitu ketika khutbah jum'at selain khutbah Istisqa' dan Istish-ha. Jika seorang khatib jum'at berdo'a untuk kebaikan kaum muslimin dan muslimah atau kemenangan para mujahidin, maka ia tidak mengangkat ke dua tangannya. Jika ada khatib yang mengangkatnya ketika ia berdo'a, niscaya saya akan mengingkarinya, karena dalam Shahiih Muslim diriwayatkandari `Umarah bin Ru-aibah, bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya ketika di atas mimbar, lalu ia (`Umarah) berkata kepadanya:

قبح الله هاتين اليدين،لقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ما يزيد أن يقول بيده هكذا.وأشار بإصبعه المسبحة

Semoga Allah memburukkan kedua tanganmu ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak melebihkan tatkala sedang berdo'a selain seperti ini, sambil mengangkat jari telunjuknya (HR. Muslim)

Demikian pula ketika berdo'a dalam shalat, seperti di antara dua sujud, setelah tasyahhud akhir, dan selainnya. Hal ini pun perkaranya jelas.
Contoh keadaan ketiga:
Yakni riwayat yang tidak menyebutkan apakah mengangkat kedua tangan atau tidak. Hukum asal dalam masalah ini adalah dengan mengangkat kedua tangan, karena ia termasuk di antara adab dan sebab dikabulkannya do'a. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِيْ مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهَ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرَاً

Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki sifat malu dan Maha pemberi karunia, Dia malu dari hamba-Nya tatkala sang hamba (berdo'a) mengangkat kedua tangannya (ke langit) jika keduanya dikembalikan dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan) (HR. Ahmad, Al-Hakim, At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Bany dalam Shahihul Jami no,1757)

Akan tetapi didapati keadaan-keadaan di mana ditegaskan tidak mengangkat kedua tangan ketika berdo'a, seperti ketika duduk di antara dua khutbah (Jum'at). Dalam hal ini kita tidak mengetahui satu Sahabat pun yang mengangkat tangan di saat seperti ini. Banyak pendapat (pandangan) tentang mengangkat tangan di saat seperti ini. Orang yang mengangkatnya dengan dalil bahwa hukum asal berdo'a adalah dengan mengangkat kedua tangan, maka hal itu tidak diingkari. Dan orang yang tidak mengangkatnya dengan alasan para Sahabat tidak pernah melakukannya, maka hal ini pun tidak diingkari. Intinya, dalam perkara seperti ini terdapat keleluasaan, insya Allah.

Membongkar Kedok Dukun Berlabel Ustadz/Kyiai

Metode ini nampaknya tidak penting. Namun sengaja kami kemukakan, karena sebagian kaum muslimin banyak yang tidak bisa membedakan antara penyembuhan secara Qurani dengan penyembuhan secara sihir.


Ada cukup banyak cara dan sangat bervariatif, yang semuanya mengandung kesyirikan atau kekufuran nyata. Dan Insya Allah, kami akan menyebutkan sebagian di antaranya, yakni delapan cara yang disertai dengan jenis kesyirikan atau kekufuran yang terkandung pada setiap cara tersebut secara ringkas. Hal ini sengaja kami kemukakan, karena sebagian kaum muslimin banyak yang tidak bisa membedakan antara penyembuhan secara Qurani dengan penyembuhan secara sihir. Yang pertama adalah cara imani ( keimanan ) dan yang kedua cara syaithani ( atas petunjuk syaitan ). Dan masalahnya akan semakin kabur bagi orang-orang tidak berilmu, di mana tukang sihir itu membacakan mantra dengan pelan sementara dia akan membaca ayat Al Qur’an dengan kencang dan terdengar oleh pasien sehingga pasien itu mengira bahwa orang itu mengobatinya dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur’an, padahal kenyataannya tidak demikian. Sehingga si pasien itu akan menerima perintah tukang sihir sepenuhnya.
Dan tujuan dari penyampaian dan penjelasan cara ini adalah untuk memperingatkan kaum muslimin agar mereka berhati-hati terhadap berbagai jalan kejahatan dan kesesatan, dan agar tampak jelas jalan orang-orang yang berbuat kejahatan.



Cara iqsam (bersumpah atas nama jin dan syaitan)
Cara adz-dzabh, yaitu dengan cara menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada jin dan syaitan.
Cara sufliyah, yaitu menempelkan ayat-ayat Al Qur’an atau hadits di bagian bawah kaki.
Cara najasah, yaitu menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan benda yang najis.
Cara tankis, yaitu dengan cara berkomunikasi dengan bintang –bintang.
Cara al-kaff, yaitu melihat melalui telapak tangan.
Cara al-atsar, yaitu dengan menggunakan benda bekas dipakai.

Beberapa Tanda yang Dapat Dijadikan Barometer untuk Mengenali Tukang Sihir

Jika anda mendapatkan satu tanda dari tanda-tanda berikut ini pada orang-orang yang melakukan pengobatan, maka tidak diragukan lagi dia adalah seorang tukang sihir. Berikut ini tanda-tanda tersebut :



Menanyakan nama si pasien dan nama ibunya.

Meminta salah satu dari beberapa benda bekas dipakai si pasien ( baik itu baju, topi, sapu tangan, atau kaos ).

Terkadang meminta hewan dengan kriteria tertentu untuk disembelih dengan tidak menyebut nama Allah padanya, dan terkadang darah binatang sembelihan itu dioleskan pada beberapa tempat penyakit yang dirasakan oleh pasien atau melempar binatang itu ke tempat puing-puing bangunan.

Penulisan mantra-mantra tertentu.

Membaca jimat-jimat dan mantra-mantra yang tidak dapat dipahami.

Memberi suatu pembatas yang terdiri dari empat persegi kepada pasien, yang di dalamnya terdapat huruf-huruf atau angka-angka.

Dia menyuruh pasien untuk mengurung diri dari orang-orang untuk waktu tertentu di suatu ruangan yang tidak dimasuki sinar matahari, yang kaum awam menyebutnya dengan hijbah.

Terkadang si penyihir itu menyuruh pasien untuk tidak menyentuh air untuk waktu tertentu, yang paling sering selama empat puluh hari. Dan tanda itu menunjukkan bahwa jin yang melayaninya adalah beragama Nasrani.

Memberi beberapa hal kepada pasien untuk ditimbun di dalam tanah.

Memberi pasien beberapa kertas untuk dibakar dan mengeluarkan asap.

Berkomat-kamit dengan kata-kata yang tidak dapat dipahami.

Terkadang si penyihir memberitahu pasien nama dan kampung halaman pasien tersebut serta permasalahan yang akan dikemukakannya.

Si penyihir juga menuliskan untuk pasien beberapa huruf terputus-putus di sebuah kertas ( jimat ) atau di lempengan tembikar putih, lalu menyuruh pasien melarutkan dan meminumnya.

Jika anda megetahui bahwa seseorang adalah tukang sihir, maka hindarilah dan janganlah Anda mendatanginya, dan jika tidak, maka Anda termasuk dalam sabda Nabi: “Barangsiapa mendatangi seorang dukun, lalu dia membenarkan apa yang dikatakannya, berarti dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.’’ ( diriwayatkan oleh Al Bazzar, dengan beberapa penguatnya, hadits ini hasan dan diriwayatkan juga oleh Ahmad dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Albani : lihat Shahihul Jaami’ ( no. 5939 ). )


Sumber : perpustakaan-islam.com

SYI'AH MENCELA SAHABAT NABI

Syi’ah Mencela Sahabat Nabi
Kategori: Manhaj Salaf
Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, di antara aqidah Ahlus Sunnah adalah kita mencintai para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Kita juga tidak boleh berlepas diri (antipati) terhadap seorang pun dari mereka. Kita membenci orang yang membenci dan menjelek-jelekkan mereka. Kita pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, begian dari iman, dan salah satu bentuk ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan sikap melampaui batas. (Aqidah Ath-Thohawiyyah).

Sahabat, Generasi Terbaik Umat Islam

Setelah kedudukan sebagai Nabi, tidak ada lagi kedudukan yang lebih tinggi dan lebih mulia dibanding kedudukan suatu kaum yang telah diridhai Allah untuk mendampingi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjadi pembela agama-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian generasi sesudahnya, dan sesudahnya lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada diri sahabat telah terkumpul kelebihan dan keutaman yang banyak. Mereka adalah orang yang lebih dahulu masuk Islam. Mereka adalah orang yang mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berhijrah dan berperang, serta melindungi beliau. Mereka berjihad menghadapi musuh ketika cuaca sangat terik menyengat, padahal mereka sedang berpuasa. Mereka pula yang menyebarkan agama Islam ini ke berbagai wilayah. Oleh karena itu, umat Islam ini telah sepakat bahwasannya para sahabat radhiyallahu ‘anhum lebih mulia daripada orang setelah mereka dari umat ini, dalam segi ilmu, amal perbuatan, pembenaran, dan persahabatan dengan Rasulullah.

Karena tingginya kedudukan para sahabat pula, sampai-sampai harta yang mereka sumbangkan, demi mencari keridhaan Allah dalam situasi dan kondisi sesulit apapun, merupakan suatu amal yang tidak mungkin terjadi pada seorang pun dari umat ini dan tidak pula semisal ukuran pahalanya. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabatku. Karena demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kalau salah seorang di antara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka nilainya tidak akan mencapai satu mud (segenggam tangan) salah seorang mereka, dan tidak juga separuhnya.” (HR. Bukhari)

Syi’ah, Musuh Umat Islam

Namun sayangnya, telah muncul suatu kelompok (agama) yang menamakan dirinya dengan Syi’ah. Mereka mengaku muslim, akan tetapi mereka sangat membenci para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka mengkritik, mengecam, dan akhirnya berani mencela beberapa tokoh dari sahabat, serta merendahkan martabat mereka. Apabila mereka menyebutkan salah seorang sahabat, bukannya mengatakan radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah meridhainya) untuk mendoakan mereka, tetapi justru mengatakan la’natullah ‘alaihi (Semoga Allah melaknatnya). Bahkan yang lebih parah lagi, mereka sampai mengkafirkan seluruh sahabat kecuali beberapa orang saja, seperti Salman Al Farisi, Miqdad Al Aswad, dan Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhum. Untuk mendukung pemikirannya ini, mereka juga berani membuat hadits-hadits palsu tentang kejelekan sahabat tertentu atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Padahal, ketika mereka mencela sahabat, secara tidak langsung mereka juga telah mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena jika para sahabat itu kafir dan fasik, jelas hal itu mencela Rasulullah. Karena agama seseorang itu tergantung pada agama teman-temannya. Seseorang bisa dicela gara-gara temannya, jika temannya itu jelek. Secara tidak langsung pula, mereka telah mencela Allah. Allah telah memilih dan mempercayakan risalah yang paling utama kepada Rasulullah, padahal pergaulan beliau adalah dengan orang-orang kafir?! Oleh karena itu kita meyakini bahwa celaan kepada sahabat adalah kedustaan besar kepada para sahabat, permusuhan kepada Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya.

Salah seorang sahabat yang menjadi korban kejahatan orang-orang Syi’ah adalah Mu’awiyah bin Abu Sofyan radhiyallahu ‘anhu. Keharuman nama dan sejarah perjalanan beliau yang begitu indah dalam kitab-kitab hadits dan sejarah yang terpercaya, telah dinodai oleh goresan tangan para pendusta yang memutarbalikkan sejarah. Ironisnya, virus pemikiran yang sangat keji ini telah lama subur dalam buku-buku pendidikan sejarah pada berbagai tingkatan madrasah di negeri kita. Sehingga semenjak dini anak-anak telah dibina untuk membenci seorang sahabat bernama Mu’awiyah. Dalam gambaran mereka, Mu’awiyah adalah musuh bebuyutan Khalifah Ali bin Abi Thalib! Mu’awiyah adalah seorang yang menghalalkan darah saudaranya hanya karena ambisi kekuasaan! Dan gambaran-gambaran mengerikan lainnya. Mereka telah tertipu dengan hadits-hadits palsu tentang celaan terhadap Mu’awiyah buatan orang Syi’ah yang memang terkenal pendusta.

Sejahat itulah orang-orang Syi’ah dalam membenci dan mencela beliau. Padahal, beliau adalah salah seorang sahabat Nabi. Bahkan, beliau dikenal termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk penulis wahyu untuk Rasulullah. Sampai-sampai Rasulullah telah berdoa untuk beliau, “Ya Allah, jadikanlah dia penunjuk dan yang diberi petunjuk. Tunjukilah dia, dan berilah manusia petunjuk karenanya.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Adz-Dzahabi. Hadits hasan shahih)

Demikianlah sedikit penjelasan tentang keutamaan sahabat Rasulullah dan kekejian kaum Syi’ah yang mencela sahabat. Akhirnya, ya Allah saksikanlah bahwa kami mencintai sahabat Nabi-Mu dan berlepas diri dari perilaku kaum Syi’ah yang mencela para sahabat Nabi-Mu.

***

Catatan Redaksi:

Ikhwah sekalian, tulisan ringkas di atas merupakan sedikit dari kesesatan dan kejahatan agama Syi’ah (Rafdhoh). Ketahuilah wahai saudaraku, risalah agama Islam sampai kepada kita melalui perantara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Para sahabatlah yang mendampingi dan berjuang dengan mengorbankan segala harta dan jiwa mereka membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyebarkan dakwah Islam dan menegakkan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah. Para sahabat lah yang telah membenarkan risalah yang dibawakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kaum kafir dan musyrik mendustakannya. Allah ‘Azza wa Jalla telah memuji para sahabat di dalam kitab-Nya yang mulia Al-Qur’anul Karim. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah memuji para sahabatnya di dalam hadits-hadits beliau. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, para sahabat lah yang meneruskan risalah keislaman ini, mereka menyebar ke seluruh dunia dalam rangka mengajak umat manusia kepada Islam. Dan sekarang, para anak cucu Majusi (agama Syi’ah Rafidhoh) telah lancang mencela, melaknat, dan mengkafirkan para sahabat -radhiallahu ‘anhum ajma’in-. Secara tidak langsung para anak cucu majusi (agama Syi’ah) telah mengkafirkan seluruh kaum muslimin karena islam yang kita anut ini sampai kepada kita melalui dakwah para sahabat yang notabene telah dikafirkan oleh agama Syi’ah!

Oleh karena itu wahai saudaraku, janganlah kita tertipu oleh slogan-slogan kosong agama Syi’ah yang ingin membentuk opini “Kesatuan antara Sunni dan Syi’ah”. Slogan tersebut adalah slogan kosong yang lahir dari kelicikan para anak cucu majusi tersebut. Ketika mereka minoritas di suatu negara, mereka berusaha mengambil hati kaum muslimin di negara tersebut dengan menampakkan topeng mereka dan menyembunyikan borok mereka di balik itu, sehingga seolah-olah yang terlihat adalah hal-hal yang baik. Tidaklah heran, karena salah satu aqidah mereka adalah taqiyyah, yaitu menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan apa-apa yang mereka sembunyikan di hati mereka. Ya, sama persis dengan aqidahnya orang-orang munafik! Jika slogan “Kesatuan antara Sunni dan Syi’ah” berhasil mereka bentuk, maka mereka para anak cucu majusi tersebut akan semakin leluasa menancapkan kuku-kuku kesesatan mereka kepada kaum muslimin. Waspadalah saudaraku, waspadalah! jagalah aqidah kita dan aqidah keluarga-keluarga kita dari cengkeraman aqidah sesat agama Syi’ah! Janganlah kita lengah walau sekejap! marilah kita bahu membahu sesuai dengan kemampuan kita, menjelaskan kepada ummat tentang bahaya Syi’ah.

Related Website:

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai agama Syi’ah, silakan buka website www.hakekat.com yang menjelaskan hakekat tersembunyi agama Syi’ah.

***

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel www.muslim.or.id

Jumat, 06 Februari 2009

AWAS AGAMA SYI'AH MENYAMAR DISEKITAR ANDA

YAYASAN AGAMA SYI’AH DI SEKITAR ANDA!!!
Posted by: admin on: 6 Desember 2007

Agama Sesat Syi’ah –Hadahumullah- tidak henti-hentinya mengincar mangsa di negeri kita. Melalui berbagai cara, mereka berusaha mendekatkan diri mereka kepada kaum muslimin untuk dengan misi penyebaran agama Sesat Syi’ah di Indonesia. Salah satunya dengan mendirikan berbagai yayasan “keislaman” untuk melancarkan makar Iblis mereka. Maka, berhati-hatilah wahai kaum muslimin terhadap yayasan-yayasan Agama Syi’ah yang akan mengancam aqidah kita dan keturunan kita… Berikut ini kami bawakan daftar nama dan alamat yayasan Syi’ah di Indonesia (Semoga Allah memberi hidayah Sunnah kepada orang-orang Syi’ah). Maksud kami menampilkan daftar yayasan Agama Syi’ah disini dengan tujuan agar kaum muslimin dapat berhati-hati terhadap makar dan propaganda sesat Syi’ah. Dan salah satu pusat penyebaran Agama Syi’ah di Indonesia adalah kota Bandung bersama yayasan Muthoharinya dengan dedengkotnya seorang Syi’ah Rofidhoh DR. Jalaluddin Rahmat (biasa dipanggil dengan Kang Jalal - salah seorang dosen universitas ternama di kota Bandung). Semoga Allah segera membuka kedok orang ini yang sesungguhnya!!! Maka, berhati-hatilah wahai Umat Islam dari makar Syi’ah – Keturunan Babi dan Kera – .

DAFTAR YAYASAN AGAMA SYI’AH DI NUSANTARA

Yayasan Fatimah
JL. Batu Ampar III No.14 Condet Jakarta Timur, 13520
Tazkia Sejati Patra Kuningan IX No.6 Kuningan Jakarta Selatan
Yayasan Al Mahdi Jakarta Utara
Yayasan Al Muntazar Komp Taman Kota Blok E7/43 Kembangan Utara, Jakarta Barat
Yayasan Madina Ilmu Sawangan, Parung, Depok
Shaf Muslimin Indonesia Cawang
IPABI Bogor
Yayasan Insan Cita Prakarsa Jl Lontar 4 No.9 Menteng Atas Jaksel
Islamic Center Jakarta Al Huda Jl Tebet Barat II No 8, Tebet, Jaksel, Indonesia 12810
Yayasan Asshodiq Jl Penggilingan No 16 A, RT01/07 Jakarta Timur
Pengajian Ummu Abiha (HJ Andriyanti) Jl Pondok Hijau VI No.26 Pondok Indah Jakarta Selatan 12310
Pengajian Al Bathul (Farida Assegaf) Jl Clilitan Kecil, Jaksel
Yayasan Babul Ilmi Jl Taman Karmila, Blok F3/15 Jatiwaringin Asri, Pondok Gede
Pengajian Haurah Jl Kampus I Sawangan Depok
MPII Jl Condet Raya 14 condet Jaktim 13520
FAHMI (Forum Alumni HMI) Depok Jl. Fatimah 323 Depok
Yayasan Azzahra Jl. Dewi Sartika Gg.Hj.M.Zen No 17, RT.007/05, Cawang 3, Jakarta Timur
Yaysan Al Jawad Gegerkalong Girang, No 92 Bandung 40015
Yayasan Muttahhari Jl Kampus II No 32 Kebaktian Kiaracondong 40282
Majlis Taklim Al Idrus Rt 04/01 Cipaisan, Purwakarta
Yayasan Fatimah Jl Kartini Raya No 11/13, Cirebon 45123
Yayasan Al Kadzim
Yayasan Al Baro’ah Gg Lenggang IV-66 Blok H, Bumi Resik Panglayungan, Tasikmalaya 46134 Jabar
Yayasan 10 Muharrom JL Chincona 7 Pangalengan Bandung
Majlis Ta’lim Annur Jl Otista No 21 Tangerang Jabar
Yayasan As Shodiq Jl Plesiran 44 Bandung 40132
IPABI PO BOX 509 Bogor Jabar
Yayasan As Salam Jl Raya Maja Utama 25 Majalengka Jabar
YAYASAN Al Mukarromah Jl Cimuncang No 79 Bandung Jabar Jl Kebun Gedang 80 Bandung 40274 Jabar
MT Al Jawad Jl Raya Timur No 321 Singaparna Tasikmalaya Jabar
Yayasan al Mujtaba Jl Walangi No 82 Kaum Purwakarta Jabar
Yayasan Saifik Jl Setiabudi Blok 110 No 11A/166 D Bandung, Jawa Barat
Yayasan Al Ishlah DRS Ahmad M.Ag
Jl Pasar Kramat No 242 Ps Minggu Cirebon, Jabar
Yayasan Al-Aqilah Jl. Eksekusi EV No. 8 Komp. Pengayoman, Tangerang 15118
Banten - Indonesia
Yayasan Dar Taqrib Jl KH Yasin 31A PO BOX 218 Jepara Jawa Tengah
Al Hadi Pekalongan 51123 , PO BOX 88,
Yayasan Al Amin Giri Mukti Timur II/1003/20, Semarang Jawa Tengah
Yayasan Al Khoirat Jl Pramuka 45, RT 05/06 Bangsri Jepara Demak Jateng Desa Prampelan, Rt 02/04 No 50 Kec Sayung, Jateng
Yayasan Al Wahdah Metrodanan, 1/1 no 81 Ps Kliwon, Solo Jateng
Yayasan Rausan Fikr (Safwan) Jl Kaliurang Km 6, Gg Pandega Reksa No 1B Yogyakarta
Yayasan Al Mawaddah Jl Baru I Panaruban, Rt 02/03 Weleri, Kendal Jateng
Yayasan Al Mujtaba (BP Arman) Jl Pasar I/59, Wonosobo Jateng
Yayasan Safinatunnajah Jl Pahlawan, Wiropati 261, Desa Pancur wening Wonosobo Jateng
Yayasan Al Mahdi Jl. Jambu No.10, Balung, Jember Jawa Timur 68161
Majlis T’lim Al Alawi Jl Cokroaminoto III/254, Probolinggo Jawa Timur
Yayasan Al Muhibbiin Jl. Kh Hasan No.8, Probolinggo, Jawa Timur
Yayasan Attaqi Kedai Hijau, Jl. RA Kartini No.7 Pandaan Pasuruan Jatim
Yayasan Azzhra Sidomulyo II No 38, Bululawang Malang Jawa Timur
Yayasan Ja’far Asshodiq Jl KH Asy’ari II/1003/20 Bondowoso Jawa Timur 68217
Yayasan Al Yasin Jl. Wonokusumo Kulon GG 1/No.2 Surabaya
Yayasan Itrah PO BOX 2112, Jember Jawa Timur
Yapisma Jl. Pulusari I/30, Blimbing, Malang Jawa Timur
Yayasan Al Hujjah Jalan Sriwijaya XXX/5 Jember Jawa Timur
Yayasan Al Kautsar Jl.Arif Margono 23 A, Malang Jawa Timur
YAPI Jl Pandaan Bangil, Kenep Beji, Pasuruan Jatim
Yayasan AL Hasyim Jl Menur III/25A Surabaya
Yayasan Al Qoim Jl Sermah Abdurrahman No 43, Probolinggo Jawa Timur
FAJAR
Al-Iffah Jl. Trunojoyo IX / 17 Jember
Yayasan BabIlm Jl. KH. Wahid Hasyim 55 Jember 68137. Jawa - Timur Telpon : 0331-483147 PO. BOX : 232
Yayasan al-Kisa’ Jl. Taeuku Umar Gg. Sesapi No. 1 Denpasar Bali
Al-Hasyimi Toko al-Kaf Nawir Jl. Selaparang 86 Cakranegara Lombok
Yayasan Al Islah Kopm Panakkukang Mas II Bloc C1/1 Makasar 90324
Yayasan Paradigma Jl Sultan Alaudin no 4/lr 6
Yayasan Fikratul Hikmah Jl Sukaria I No 4 Makasar 90222
Yayasan Sadra Makasar
Yayasan Pinisi JL Pontiku, Makassar, Sulsel
Yayasan LSII JL Veteran Selatan, Lorong 40 No 60 Makasar
Yayasan Lentera Jl. Inspeksi Pam No. 15 Makassar
Yayasan Nurtsaqolain Jl Jendral Sudirman No 36A Palopo Sulsel Belakang Hotel Buana
Yas Shibtain Jl Rumah Sakit no 7 Tanjung Pinang Kep Riau
Yayasan Al Hakim Pusat Perbelanjaan Prinsewu, Bolk B Lt2, Lampung Selatan 35373
Yayasan Pintu Ilmu Jl Kenten Permai, Ruko Kentan Permai No.7 Palembang 30114
Yayasan Al Bayan Jl Dr. M. Isa 132/795 Rt 22/8 Ilir Palembang
Yayasan Ulul Albab Jl Air Bersih 24 D Kutabelang Loksumawe Aceh
Yayasan Amali Jl. Rajawali. Komp. Rajawali I No. 7 Medan 20122
Kumail Jl. Punai 2 No. 26 Kuto Batu Palembang
Yayasan Al Muntadzar Jl Al Kahoi II no 80, Samarinda Kalimantan Selatan
Yayasan Arridho Jl A Yani KM 6-7 No 59 Banjarmasin Kalimantan Selatan
Us Ali Ridho Alatas Jl. Sungai Ampal No.10 Rt43/15 Sumberjo, Balikpapan, Kalimantan Timur
Madrasah Nurul Iman Selat Segawin, remu Selatan No 2 Sorong Irian Jaya

Sumber: Yayasan Fatimah

Ads by Google
Clinica Dentale Ungheria
Trattamenti, Carie, Impianti, Altro
Vieni in Cura e Sconto sull'Hotel!
www.Rosengarten.hu/Clinica_DentistaFormazione in Ortodonzia
Master-Corsi Base-Aggiornamento
Crediti ECM
www.associazioneaero.it




34 Responses to "AWAS… YAYASAN AGAMA SYI’AH DI SEKITAR ANDA!!!"

1 | antisyiah
Desember 7th, 2007 at 00:00

insyallah dengan kehadiran salafiyuun, ahlussunnah. di bumi indonesia, orang-orang kafir syiah tidak akan hidup dengan tenang menyebarkan kesesatan dan agama khayalan mereka.
Ud’u ilaa sabili robbikum bil hikmati wal mauidhatil hasanah. wa jaadilhum billati hiya ahsan.



2 | abu muhammad al ajmi
Desember 29th, 2007 at 00:00

“Syiah adalah agama di luar islam bukan sekte(aliran)dalam masalah fiqih fiqih islam…
Syiah adalah kaum yang pertama kali akan diperangi oleh Imam mahdi jika sudah muncul di akhir zaman…
dan berhati hatilah terhadap Alawiyyin(Habib) mereka merupakan sempalan syiah jangan sampai terkena fitnah dan syubhat mereka”



3 | abdul rachim
Januari 4th, 2008 at 00:00

blh agk aku minta, selama ini aliran yang sesat di seluruh indonesia dan alamatnya di setiap kota di indonesia dan kalau bisa harap di kirim ke mail saya. terima kasih. dan lagi apakah menurut salaf LDII itu termasuk aliran yang bagai mana

kalo LDII termasuk firqoh sesat…antum bisa baca buku bapak Hartono Ahmad jaiz tetang aliran dan paham sesat di indonesia….



4 | yulius dwi putra
Januari 5th, 2008 at 00:00

syiah adalah pengikut yang hakiki,bukan seperti para pengikut yazid bi muawiyah.seperti suni(suka nipu) karna kami mengakui wilayah ali as.sebagai imam kami, bukan seperti imam imam suni yg hidupnya bekas orang2 bodoh dan jahiliyah

bukankah imam syi’ah yang suka nipu dengan cerita dan hadits2 palsunya??? jagalah lisan ente dari mencela shahabat nabi!! ingatlah…Ali radhiallahu ‘anhu berlepas diri dari aqidah kafir agama syi’ah yang sesat



5 | Ahmad
Februari 23rd, 2008 at 00:00

Salam,
shahabat nabi yg mna??
shabat Muawiyah??
anda seenaknya saja m’klaim perktaan Imam Ali pdahal tentu anda tdk m’ngetahui apa pun ttg p’kata’n itu. anda cuma coba-coba meniru imam-imam suni anda yg asal bcra, gembar-gembor studi ilmiah(tulisan2 ini buktinya), m’nyadur sana-sini(tulisan2 di bag lain buktinya), m’nulis hujjah2 kosong(isi s’bagian bnyk artikel di sini buktinya), m’atasnama’kn sunnah namun pd k’nyataan’nya sama sekali tdk p’nah m’guna’kn akal u/ brsyukur atas sunnah itu sndri sdikit pun.

k’mungkin’n m’malsu’kan hadits akan selalu ada, krna shabat bukan maksum, berbeda dgn Nabi dan ahlBaytnya. jika shabat bkanlah shabat, maka mrka pasti pemalsu dan penipu hadis.

mohon hentikan p’bahas’n m’ngenai apa yg anda tidak k’tahui ttgnya, hal ini hanya m’jdi tontonan umum atas k’bodohan anda sndri, dan hal itu saya pikir b’dampak buruk bagi anda dan p’ngunjung di sini.
krm sy tanggapan dr anda jka anda mau via email
semoga anda diberi ampunan oleh Allah



6 | dwi Yanto
Februari 27th, 2008 at 00:00

Para Sahabat Menurut al-Qur’an al-Karim

Sesungguhnya termaktub di dalam ayat-ayat suci al-Qur’an yang penuh keberkatan, pujian terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum serta kenyataan akan kelebihan serta keutamaan mereka. Ini disebabkan betapa banyaknya usaha yang mereka lakukan bagi membantu serta mempertahankan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam melaksanakan tugas kerasulan baginda. Nyata kepada para sahabat itu iman yang benar, ketakwaan kepada Allah, ketakutan terhadap-Nya, pemerhatian serta penyerahan diri yang penuh kepada-Nya. Terserlah juga ke atas mereka sifat kesabaran terhadap kesusahan yang menimpa ditambah dengan kewarakan serta kezuhudan di dalam kehidupan dunia. Betapa sempurnanya kasih mereka kepada Allah serta Rasul-Nya serta kesungguhan mereka melaksanakan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Mereka juga menyampaikan ajaran al-Qur’an serta Sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh kejujuran serta keikhlasan selepas wafatnya baginda. Mereka juga berjihad bagi menegak serta mempertahankan agama, membuka negara[1], peradaban serta melakukan pembaikan (islah) ke atasnya. Sesungguhnya para sahabat radhiallahu ‘anhum merupakan pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke atas umat ini. Dengan demikian tiada sesiapa yang dapat mengatasi ataupun menyamai kelebihan mereka sama ada di kalangan mereka yang terdahulu mahupun di kalangan umat akhir zaman kecuali para Rasul serta Nabi ‘alaihimus solatu wassalam.

Berikut dikemukakan ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan pengiktirafan Allah Subhanahu wa Ta’ala ke atas para sahabat radhiallahu ‘anhum yang berupa pujian, kemuliaan, pembelaan, keampunan dan ganjaran syurga. Sebahagian daripada ayat-ayat ini ada yang umum meliputi seluruh sahabat dan ada yang khusus meliputi sebahagian sahabat.

Pertama:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikianlah, Kami jadikan kamu satu umat yang pilihan lagi adil supaya kamu layak menjadi orang yang memberi keterangan kepada manusia (tentang yang benar dan yang salah), dan Rasulullah (Muhammad) pula akan menjadi orang yang menerangkan (kebenaran dan kesalahan) perbuatan kamu. [al-Baqarah 2:143]

Ayat ini ditujukan kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum sebelum ditujukan ke atas kaum Muslimin lainnya. Mereka adalah pemimpin di kalangan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi saksi ke atas umat terdahulu di Hari Akhirat nanti. al-Tirmizi meriwayatkan di dalam (kitab Sunannya, bab) al-Tafsir, sebuah hadis daripada Abu Sa‘id al-Khudri radhiallahu ‘anh bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan ayat (وكذلك جعلناكم أمة وسطا) sebagai bermaksud “adil”. Hadis ini adalah hasan sahih.[2]

Selain menjadi saksi ke atas umat terdahulu, (وكذلك جعلناكم أمة وسطا) pada ayat tersebut juga membawa pengertian bahawa para sahabat itu merupakan pemimpin yang adil yang menjadi saksi ke atas umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini berdasarkan kepada sabda baginda di dalam sebuah hadis yang sahih:

مَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَمَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ.

Sesiapa yang kalian katakan terhadapnya kebaikan maka wajib baginya syurga dan sesiapa yang kalian katakan terhadapnya keburukan maka wajib baginya neraka. Kalian semua adalah saksi Allah di bumi ini, kalian semua adalah saksi Allah di bumi ini, kalian semua adalah saksi Allah di bumi ini.[3]

Kedua:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani. [al-Baqarah 2:218]

Menurut Qatadah, Allah Subhanahu wa Ta‘ala menyatakan pujiannya terhadap para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pujian yang sebaik-baiknya di dalam ayat tersebut. Mereka merupakan pilihan ke atas umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.[4]

Turunnya ayat tersebut disebabkan suatu kisah dimana tentera Islam di bawah pimpinan Abdullah bin Jahsy radhiallahu ‘anh telah melakukan pembunuhan ke atas musuh-musuh Islam di bulan Rejab[5] sedangkan pada sangkaan mereka ianya pada akhir bulan Jamadil Akhir. Dengan itu mereka merasa berdosa dan menganggap tiada ganjaran pahala di atas tindakan yang mereka lakukan sedangkan hakikatnya tidak demikian.

Menurut ulama’ tafsir, orang-orang beriman yang berhijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau yang berhijrah kepada baginda, mereka sebenarnya memberikan pertolongan yang benar. Mereka telah berjihad membunuh serta memerangi golongan musyrikin dengan mengharap rahmat Allah serta kebaikan daripada-Nya dengan pengharapan yang sebenar-benarnya. Oleh itu mereka lebih layak menerima ganjaran berdasarkan apa yang mereka harapkan itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani, Maha luas Pengampunan-Nya serta Rahmat-Nya ke atas orang-orang beriman yang bertaubat serta berbuat kebaikan. Dengan itu sudah tentulah golongan Mujahidin di kalangan Muhajirin[6] layak mendapat pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Ketiga:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia, kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah serta kamu pula beriman kepada Allah. [Ali-Imran 3:110]

Ayat ini asalnya ditujukan kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum. Menurut Ibn Abbas radhiallahu ‘anh yang dimaksudkan dengan sebaik-baik umat dalam ayat ini adalah para sahabat yang berhijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.[7] Menurut Umar al-Khaththab radhiallahu ‘anh:[8]

لو شاء الله لقال: أنتم. فكنا كلنا، ولكن قال ((كنتم)) في خاصة أصحاب محمد، ومن صنع مثل صنيعهم كانوا ((خير أمة أخرجت للناس)).

Jika Allah kehendaki, nescaya Dia mengatakan: Antum, yang termasuk ke dalamnya semua kita. Akan tetapi Allah mengatakan kuntum, mengkhususkannya untuk para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam semata-mata, dan sesiapa yang membuat seperti apa yang dibuat oleh mereka (para sahabat) sahaja maka mereka itu (termasuk dalam kategori) sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia.

Ayat yang mulia tersebut turun setelah turunnya perintah Allah supaya umat Islam berpegang dengan tali Allah. Sebelum itu Allah menyebut nikmatnya ke atas orang yang beriman dengan melembutkan hati mereka menerusi persaudaraan Islam, mencegah mereka dari perpecahan serta perselisihan agama serta memberi ancaman dengan azab yang menyeksakan sekiranya mereka tidak berpegang dengan tali Allah. Maka Allah memuji mereka dengan kedudukan yang mulia. Kamu sebaik-baik umat yang mempunyai kelebihan ke atas umat lainnya disebabkan melakukan kebaikan, mencegah kemungkaran serta beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Golongan yang dimaksudkan ayat di atas adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diikuti dengan para sahabat baginda radhiallahu ‘anhum. Mereka merupakan golongan yang telah dikurniakan kasih sayang ke dalam hati mereka serta golongan yang berpegang dengan tali Allah dengan sebenarnya sehingga tidak wujud pemisahan di dalam agama serta tidak timbul mazhab-mazhab di kalangan mereka. Mereka beriman kepada Allah sehinggakan Allah meningkatkan kefahaman mereka, menyucikan hati mereka sehingga sanggup mereka meninggalkan tanah air serta kampung halaman demi menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Maka terserlah faedah dari peninggalan usaha mereka itu dimana mereka telah berjaya membuka negara, mengubah peradaban dunia serta menyebarkan agama yang hak dengan penuh keadilan. Maka nyatalah terhadap para sahabat kelebihan yang sangat banyak yang dikurniakan Allah kepada mereka.

Oleh kerana itu apa yang terjadi di kalangan mereka misalnya perbezaan pendapat tentang isu pembunuhan ‘Utsman radhiallahu ‘anh tidak memberi kesan kepada apa yang disifatkan oleh Allah di dalam ayat tersebut. Ini kerana perbezaan pendapat di kalangan mereka hanyalah melibatkan urusan keduniaan bukannya urusan keagamaan serta tidak menyebabkan timbulnya mazhab baru selepas mereka sebagaimana yang terjadi (beberapa ketika) selepas itu.

Menurut sebahagian besar ulama’ tafsir setelah ayat tersebut ditujukan kepada para sahabat ianya ditujukan pula kepada sekalian orang yang beriman. Al-Alusi rahimahullah di dalam kitabnya Ruh al-Ma‘ani berkata:[9]

والظاهر أن الخطاب وإن كان خاصا بمن شاهد الوحي من المؤمنين أو ببعضهم لكن حكمه يصلح أن يكون عاما للكل كما يشير إليه قول عمر رضي الله تعالى عنه فيما حكى قتادة: ياأيها الناس من سره أن يكون من تلكم الأمة فليؤد شرط الله تعالى منها.

Secara zahirnya ayat ini khas ditujukan ke atas mereka yang menyaksikan penurunan wahyu di kalangan orang beriman (para sahabat) atau sebahagian mereka, akan tetapi ianya boleh dijadikan hukum umum bagi sekalian manusia sebagaimana kata-kata Umar radhiallahu ‘anh yang diriwayatkan oleh Qatadah: “Wahai manusia sesiapa yang berasa suka untuk menjadi sebahagian dari golongan tersebut maka hendaklah dia menunaikan syarat Allah Subhanahu wa Ta‘ala terhadapnya.”

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh[10] meriwayatkan bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنْ الأَنْبِيَاءِ. فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هُوَ؟ قَالَ: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ الأَرْضِ وَسُمِّيتُ أَحْمَدَ وَجُعِلَ التُّرَابُ لِي طَهُورًا وَجُعِلَتْ أُمَّتِي خَيْرَ الأُمَمِ.

Aku telah diberikan oleh Allah apa yang tidak diberikan-Nya kepada seorang jua daripada Nabi-Nabi. Maka kami bertanya: “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Aku dimenangkan (dalam peperangan) hanya kerana rasa ketakutan yang dijatuhkan Allah ke dalam hati musuh, aku diberi kunci-kunci dunia, aku diberi nama Ahmad dan tanah dijadikan penyuci bagiku, serta umatku dijadikannya umat terbaik.”[11]

Muawiyah bin Haidah radhiallahu ‘anh berkata, bahawa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan ayat “Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia” sebagai:

وَإِنَّكُمْ تُتِمُّونَ سَبْعِينَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ.

Kamu melengkapi bilangan 70 umat dan kamulah yang terbaik dan termulia di hadapan Allah.[12]

Keempat:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidaklah sama keadaan orang-orang yang duduk (tidak turut berperang) dari kalangan orang-orang yang beriman – selain daripada orang-orang yang ada keuzuran – dengan orang-orang yang berjihad (berjuang) pada jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak berperang kerana uzur) dengan kelebihan satu darjat. Dan tiap-tiap satu (dari dua golongan itu) Allah menjanjikan dengan balasan yang baik (Syurga). [al-Nisa’ 4:95]

Ayat ini menerangkan perbezaan di antara para sahabat yang pergi berjihad dengan para sahabat yang tidak pergi berjihad kerana keuzuran yang dibenarkan oleh syara’.[13] Golongan yang tidak pergi berjihad kerana keuzuran tetap diberikan ganjaran pahala serta dijanjikan syurga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala disebabkan mereka tetap bersatu di dalam iman serta aqidah yang baik, niat yang benar serta amal salih yang banyak. Mereka merupakan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta penolong baginda. Ayat tersebut juga merupakan nas yang menunjukkan bahawa kesemua para sahabat adalah ahli syurga. Semoga Allah menjadikan kita mengasihi mereka serta mengikuti akan segala jejak langkah mereka.

Kelima:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ -وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَئِكَ مِنْكُمْ

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka beroleh keampunan dan limpah kurnia yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian mereka berhijrah dan berjihad bersama-sama kamu, maka adalah mereka dari golongan kamu. [al-Anfal 8:74-75]

Menerusi ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan pujian terhadap orang yang beriman di kalangan golongan Muhajirin yang awal serta saudara mereka iaitu golongan Ansar yang telah memberikan tempat kediaman serta pertolongan kepada golongan Muhajirin tersebut. Golongan Muhajirin mempunyai keimanan yang sempurna kerana mereka sanggup berhijrah meninggalkan kampung halaman, memisahkan diri mereka daripada kaum keluarga serta tempat tinggal. Sudah pasti mereka berbeza dengan golongan beriman yang tidak berhijrah serta tetap tinggal di negeri yang berada di bawah naungan kekufuran. Begitu juga dengan golongan Ansar yang sanggup berkorban memberikan pertolongan untuk saudara mereka golongan Muhajirin, mereka juga mempunyai keimanan yang sempurna.

Dua ayat di atas didahului dengan ayat yang menyebutkan:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah, dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), mereka semuanya menjadi penyokong dan pembela antara satu dengan lainnya. [al-Anfal 8:72]

Golongan Muhajirin serta Ansar menjadi penyokong dan pembela di antara satu sama lain sehingga dengan itu mereka mempunyai kelebihan, darjat, pujian serta keutamaan yang sangat besar sebagaimana berikut:

1. Mereka merupakan golongan beriman dengan sebenarnya. Golongan yang sanggup memisahkan diri dari keluarga, kampung halaman serta tanah air demi perjuangan pada jalan Allah serta golongan yang sanggup pula berkorban bagi membantu mereka, itulah golongan beriman sebenarnya.
2. Mereka memperoleh pengampunan. Pengampunan yang dimaksudkan adalah pengampunan yang sempurna ke atas segala dosa disebabkan kebaikan yang mereka lakukan itu.
3. Mereka memperoleh rezeki yang mulia. Ini merupakan kemuliaan yang dikurniakan ke atas para sahabat radhiallahu ‘anhum dimana mereka sekaliannya dimasukkan ke dalam syurga serta dikurniakan rezeki yang tidak ada tolok bandingannya.

Sesungguhnya di kalangan golongan Muhajirin terdapat beberapa tahap kedudukan. Golongan pertama adalah golongan yang berhijrah ke Habsyah diikuti dengan golongan yang berhijrah ke Madinah. Mereka dikenali sebagai “Ashabul Hijratain” (para sahabat yang berhijrah dua kali). Kemudian diikuti dengan golongan yang berhijrah setelah perjanjian Hudaibiyyah serta sebelum pembukaan kota Mekah al-Mukarramah. Kesemua golongan tersebut termasuk di dalam pengertian ayat al-Qur’an di atas.

Maka tidak syak lagi termasuk di kalangan mereka itu keempat-empat Khalifah al-Rasyidin radhiallahu ‘anhum yang mempunyai pelbagai kelebihan serta kemuliaan sebagaimana yang telah disepakati oleh para ilmuan. Sesiapa yang beriman, berhijrah dan berjihad sesudah kaum Muhajirin dan Ansar, maka mereka termasuk dalam golongan di atas.

Keenam:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ -يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ -خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

(Sesungguhnya) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka adalah lebih besar dan tinggi darjatnya di sisi Allah (daripada orang-orang yang hanya memberi minum orang-orang Haji dan orang yang memakmurkan masjid sahaja); dan mereka itulah orang-orang yang berjaya.

Mereka digembirakan oleh Tuhan mereka dengan pemberian rahmat daripada-Nya dan keredhaan serta Syurga; mereka beroleh di dalam Syurga itu nikmat kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah, menyediakan di sisi-Nya pahala yang besar. [al-Taubah 9:20-22]

Turunnya ayat ini adalah sebagai penolakan Allah terhadap golongan Musyrikin yang menjaga tanah Haram. Mereka merasa bangga kerana mereka adalah golongan yang menguruskan Masjid al-Haram serta membekalkan air minuman kepada golongan yang menunaikan Haji padahal mereka (golongan Musyrikin) tersebut tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah menolak kebanggaan yang dirasai mereka dengan firman-Nya:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Adakah kamu sifatkan hanya perbuatan memberi minum kepada orang-orang yang mengerjakan Haji, dan (hanya perbuatan) memakmurkan al-Masjid al-Haram itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat serta berjihad pada jalan Allah? (Mereka yang bersifat demikian) tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan hidayah petunjuk kepada kaum yang zalim. [al-Taubah 9:19]

Ayat tersebut (al-Taubah 9:20-22) menunjukkan bahawa para sahabat radhiallahu ‘anhum dari kalangan Muhajirin yang beriman dan berjihad dengan harta serta jiwa merupakan golongan yang mempunyai darjat yang tinggi lagi sempurna di sisi Allah. Ia mengatasi golongan yang tidak bersifat dengan sifat-sifat demikian. Mereka itulah golongan yang berjaya serta bergembira dengan kurniaan Allah yang berupa keutamaan yang mengelilingi mereka seperti himpunan pahala, rahmat serta imbalan lainnya termasuk balasan syurga di Hari Akhirat nanti. Kesemua ini merupakan ganjaran terhadap golongan Muhajirin yang berjihad pada jalan Allah di kalangan para sahabat radhiallahu ‘anhum. Namun agak malang bagi kita kerana mereka merupakan golongan yang menerima penghinaan serta kebencian golongan Syi‘ah al-Rafidhah.

Abu Hayyan rahimahullah (754H) berkata:

Allah mensifatkan golongan yang beriman dengan tiga sifat iaitu iman, hijrah serta jihad dengan diri dan harta benda. Ganjaran yang akan diterima oleh mereka juga tiga iaitu rahmat, keredhaan serta syurga. Allah memulakannya dengan balasan rahmat sebagai tanda penerimaan iman disebabkan taufik yang diberikan oleh-Nya (kepada mereka). Sesungguhnya iman sememangnya merupakan perkara yang perlu didahulukan. Kemudian Allah memberikan balasan keredhaan-Nya dimana ia adalah sebaik-baik balasan sebagai tanda penerimaan amal jihad yang telah dilakukan dengan penuh kesungguhan (dengan kesanggupan mengorbankan) diri serta harta. Yang ketiga, Allah memberi ganjaran syurga sebagai penerimaan terhadap penghijrahan mereka meninggalkan kampung halaman.

Ketujuh:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Akan tetapi Rasulullah dan orang-orang yang beriman bersamanya, berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka; dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kebaikan, dan mereka itulah juga yang berjaya. Allah telah menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya; yang demikian itulah kemenangan yang besar. [al-Taubah 9:88-89]

Ayat ini diturunkan setelah ayat sebelumnya yang menerangkan tentang golongan munafik serta segolongan dari umat Islam yang tidak menyertai jihad bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi telah meminta izin daripada baginda untuk tinggal di belakang bersama-sama dengan golongan yang lemah, wanita, kanak-kanak serta golongan yang tiada kebaikan bagi mereka (Ahl al-Fasad).[14] Adapun selain dari mereka iaitu golongan yang berjihad pada jalan Allah maka mereka tetap berjihad dengan harta serta diri mereka, maka bagi mereka kebaikan iman serta Islam sebagaimana firman Allah: “…mereka itulah orang-orang yang mendapat kebaikan…” dimana Allah akan memberikan ganjaran pahala ke atas jihad yang mereka lakukan dan “…mereka itulah orang-orang yang berjaya.”, iaitu berjaya mendapat kegembiraan di dunia serta di akhirat nanti.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan bagi mereka itu syurga-syurga dengan pelbagai tingkatannya disebabkan oleh usaha jihad yang mereka lakukan. Firman Allah:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Ketika itu sesiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga maka sesungguhnya ia telah berjaya. [Ali-Imran 3:185]

Ayat ini (al-Taubah 9:88-89) secara umumnya ditujukan kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum yang keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuju peperangan Tabuk yang mana jumlah mereka adalah 1300 orang atau lebih. Termasuk di dalam pasukan tersebut adalah tiga orang Khalifah al-Rasyidin iaitu Abu Bakar, Umar serta ‘Utsman radhiallahu ‘anhum, manakala Khalifah yang keempat iaitu ‘Ali radhiallahu ‘anh diarahkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam untuk tinggal di belakang (di Kota Madinah) bagi menjaga keluarga baginda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali:

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى

“Apakah engkau tidak redha, bahawasanya kedudukanmu di sisiku laksana kedudukan Harun di sisi Musa?”[15] Ini menunjukkan keutamaan serta kemuliaan Ali radhiallahu ‘anh walaupun beliau tidak ikut serta di dalam peperangan tersebut.

Ayat ini (al-Taubah 9:88-89) juga menunjukkan bahawa segala kemuliaan, kebaikan, kejayaan serta ganjaran syurga secara umumnya dikurniakan kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum. Pengecualiannya adalah ke atas golongan munafik yang diketuai oleh Abdullah bin Ubai bin Salul.

Kelapan:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Dan orang-orang yang terdahulu - yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan, Allah redha akan mereka dan mereka pula redha akan Dia, serta Dia menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar. [al-Taubah 9:100]

Ayat yang mulia ini ditujukan kepada golongan awal di kalangan Muhajirin serta Ansar dan golongan yang mengikuti jejak langkah mereka dengan kebaikan dimana Allah redha terhadap mereka dan mereka juga redha terhadap-Nya. Allah telah menyediakan untuk mereka tempat tinggal serta kegembiraan yang kekal abadi iaitu Syurga.

Para ulama’ berselisih pendapat siapakah yang dikatakan golongan awal itu. Ada yang mengatakan mereka adalah golongan yang menunaikan solat dua kiblat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada yang mengatakan golongan yang menyertai Perang Badar dan ada juga yang mengatakan golongan yang terlibat dengan Bai‘ah al-Ridhwan. Sebagai menyelaraskan antara beberapa pandangan tersebut Muhammad bin Ka‘ab al-Qarazi rahimahullah berkata:

Mereka itu adalah himpunan para sahabat yang awal bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.[16]

Menurut Abu Mansur al-Baghdadi rahimahullah:[17]

Para sahabat kami, yakni Ahl al- Sunnah wa al-Jamaah bersepakat bahawa orang yang paling baik adalah para khalifah yang empat (Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali) dan sepuluh orang sahabat yang mendapat jaminan Rasulullah untuk masuk syurga. Kemudian golongan yang ikut serta di dalam peperangan Badar, yang terlibat di dalam peperangan Uhud, kemudian mereka yang membai‘ah Rasulullah pada Bai‘ah al-Ridhwan di bawah pohon pada saat Perjanjian Hudaibiyyah.

Firman Allah: “… Dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan …” merujuk kepada golongan yang menurut jejak langkah para sahabat yang awal iaitu golongan para sahabat yang terkemudian daripada mereka serta golongan selepas para sahabat yang mengikut mereka baik dari sudut perbuatan, perkataan dan selainnya.

Firman Allah: “…Allah redha akan mereka…” bermaksud Allah redha akan ketaatan mereka terhadap-Nya serta Allah tidak menunjukkan kemarahan ke atas mereka. Allah mengurniakan ke atas mereka pelbagai kelebihan serta kegembiraan, di antaranya adalah syurga yang kekal abadi. Oleh itu menjadi kewajipan bagi kita golongan Muslimin untuk mengikuti jejak langkah para sahabat radhiallahu ‘anhum serta menahan diri kita daripada mencela, mengutuk atau mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap mereka. Ini kerana keseluruhan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penghuni syurga berdasarkan firman Allah: “…serta Dia menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” Maka janganlah kita mencela dan menikam mereka dengan tutur-kata dan perbuatan kita.

Hamid bin Ziad Abi Shakhr (حميد بن زياد أبي صخر) rahimahullah berkata, saya telah bertanya kepada Muhammad bin Ka’ab al-Qarazi:[18]

“Khabarkanlah kepadaku tentang para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” , maka dia berkata: “Sesungguhnya Allah telah mengampuni keseluruhan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menetapkan ke atas mereka syurga serta memberi kebaikan ke atas mereka di dalam Kitab-Nya (al-Qur’an).”

Saya bertanya lagi: “Dimana ayat yang menetapkan syurga ke atas mereka di dalam al-Qur’an?” Dia menjawab: Firman Allah: “Dan orang-orang yang terdahulu……” (al-Taubah 9:100). Ayat tersebut menetapkan syurga dan keredhaan Allah bagi keseluruhan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Manakala syarat bagi golongan yang mengikuti mereka ialah dengan mengikuti jalan serta kehidupan para sahabat tersebut dengan melakukan amal soleh dan bukan selainnya.”

(Akhirnya) berkata Abi Shakhr: “Demi Allah! Saya tidak berkata atau menafsir ayat tersebut melainkan dengan apa yang telah dikatakan atau ditafsirkan oleh Muhammad bin Ka‘ab al-Qarazi yang ianya merupakan kata-kata kebanyakan para ulama’ tafsir.”

Kesembilan:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ -وَعَلَى الثَّلاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا …

Sesungguhnya Allah menerima taubat Nabi dan orang-orang Muhajirin dan Ansar yang mengikutnya (berjuang) dalam masa kesukaran, sesudah hampir-hampir terpesong hati segolongan dari mereka (daripada menurut Nabi untuk berjuang); kemudian Allah menerima taubat mereka; sesungguhnya Allah Amat belas, lagi Maha Mengasihani terhadap mereka. Dan (Allah menerima pula taubat) tiga orang… [al-Taubah 9:117-118]

Ayat ini menerangkan tentang kelebihan golongan Muhajirin serta Ansar yang telah keluar berserta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam peperangan Tabuk. Namun terdapat sebahagian daripada mereka yang beriman dengan sebenar-benarnya tetapi keberatan untuk berjuang kerana suasana yang amat menyukarkan di Tabuk. Kemudian mereka menyesal dan bertaubat di atas sikap mereka itu. Allah Subhanahu wa Ta‘ala meninggikan darjat mereka dengan menerima taubat serta memaafkan kesalahan mereka menerusi ayat-ayat al-Qur’an di atas.

Mereka yang terlibat itu termasuklah tiga orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tinggal di belakang daripada ekspedisi Tabuk, mereka menerima ujian hebat terhadap keimanan mereka disebabkan sikap mereka itu dimana mereka telah dipulau selama 50 hari akibat dari kesalahan yang mereka lakukan sehingga mereka merasakan bahawa bumi yang luas ini telah menjadi sempit.[19] Namun Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan Rahmat serta Kasih Sayang-Nya telah menerima taubat serta memaafkan kesalahan mereka. Bagi membesarkan hati mereka, penerimaan taubat itu ditegaskan secara umum meliputi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta sahabat-sahabat baginda yang lain.

Kesepuluh:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (memberikan pertolongan) kepada orang-orang yang telah berhijrah setelah mereka difitnahkan (oleh kaum-kaum musyrik), kemudian mereka berjihad serta bersabar; sesungguhnya Tuhanmu – sesudah mereka menderita dan bersabar dalam perjuangan – adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. [al-Nahl 16:110]

Ayat ini memberikan berita baik ke atas golongan Muhajirin yang ditindas oleh kaum musyrikin di Mekah sehingga mereka terdorong melakukan perkara yang bertentangan dengan agama, namun kemudiannya mereka bertaubat serta berhijrah ke Madinah lalu berjuang menentang kaum musyrikin serta bersabar di dalam perjuangan mereka. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas dengan Rahmat, Belas Kasihan serta Kemuliaan-Nya dan mengampunkan segala dosa mereka yang terdahulu itu.

Kesebelas:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ -لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُدْخَلا يَرْضَوْنَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ حَلِيمٌ

Dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sudah tentu Allah akan mengurniakan kepada mereka limpah kurnia yang baik. Dan (ingatlah) sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi limpah kurnia. Sudah tentu Allah akan memasukkan mereka (yang tersebut itu) ke tempat yang mereka sukai (Syurga), dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Penyabar. [al-Hajj 22:58-59]

Ayat ini diturunkan ke atas sekalian para sahabat di kalangan Muhajirin yang diketuai oleh Khalifah ar-Rasyidin Abu Bakar, Umar, ‘Utsman serta ‘Ali radhiallahu ‘anhum yang berjuang pada jalan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ditegaskan bahawa sama ada mereka terbunuh di medan pertempuran atau mati di tempat tidur maka Allah Taala tetap akan membalasnya dengan menempatkan mereka di dalam syurga dengan mengurniakan rezeki yang baik dengan segala nikmatnya serta kekal di dalamnya buat selama-lamanya.

Keduabelas:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal salih dari kalangan kamu (wahai umat Muhammad) bahawa Dia akan menjadikan mereka khalifah-khalifah yang memegang kuasa pemerintahan di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah-khalifah yang berkuasa; dan Dia akan menguatkan dan mengembangkan agama mereka (Islam) yang telah diredhai-Nya untuk mereka; dan Dia juga akan menggantikan bagi mereka keamanan setelah mereka mengalami ketakutan (daripada ancaman musuh). Mereka terus beribadat kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu yang lain dengan-Ku. Dan (ingatlah) sesiapa yang kufur ingkar sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang derhaka. [al-Nur 24:55]

Ayat ini mengandungi janji Allah Subhanahu wa Ta‘ala kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum dan seterusnya ke atas golongan selepas mereka di kalangan orang beriman yang salih, bahawa Allah akan menjadikan mereka Khalifah atau pemimpin di atas muka bumi sebagaimana yang telah Allah janjikan ke atas golongan beriman yang terdahulu. Allah juga akan menukarkan keadaan mereka daripada keadaan lemah kerana ditindas kepada menjadi umat yang kuat lagi disegani orang. Dengan kata lain mereka akan menjadi umat yang berwibawa serta berada di dalam keadaan aman sentosa.

Ayat ini menceritakan keadaan para sahabat sebelum dan sesudah kewafatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di peringkat awal perkembangan Islam iaitu dari saat sebelum hijrah kepada sejurus selepas hijrah, para sahabat berada di dalam ketakutan kerana mengalami penindasan daripada golongan musyrikin. Namun di akhir hayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga selepas kewafatan baginda, para sahabat telah dikurniakan keamanan dan menjadi umat yang terkuat lagi disegani. Rasulullah telah meramalkan hal ini sebagaimana yang tercatat di dalam Shahih al-Bukhari daripada Adi bin Hatim radhiallahu ‘anh, dimana baginda bersabda:

فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنْ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ أَحَدًا إِلاَّ اللَّهَ.

Sekiranya panjang umur engkau pasti engkau akan melihat keluar dari Hirah seorang wanita yang akan melakukan tawaf di Kaabah dan dia tidak takut melainkan Allah.[20]

Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas meramalkan keamanan selepas kewafatan baginda sehingga seorang wanita boleh bermusafir seorang diri dari bandar Hirah di Iraq ke Kota Mekah tanpa terdedah kepada bahaya.

Setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam para sahabat radhiallahu ‘anhum telah dijadikan para penguasa serta pemimpin di atas mukabumi. Ini terbukti dimana sebahagian besar dari mereka telah bertebaran ke seluruh pelusuk dunia sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah bagi meninggikan kalimah Allah serta kemaslahatan umat. Dengan itu berlakulah pembukaan wilayah serta negara secara meluas sehinggakan tersebarnya Islam dari timur hingga ke barat. Maka dengan itu terbuktilah kemukjizatan ayat al-Qur’an dimana semua ini berlaku semasa zaman pemerintahan Khulafa al-Rasyidin radhiallahu ‘anhum.

Para ulama’ tafsir mengulas bahawa ayat tersebut merupakan dalil betapa terserlahnya kepimpinan Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq radhiallahu ‘anh serta para Khalifah al-Rasyidin sesudah beliau sebagai golongan yang diberikan kekuasaan di atas muka bumi dari kalangan orang-orang yang beriman serta beramal salih. Terbukti di waktu pemerintahan mereka berlakunya pembukaan serta peluasan empayar Islam sehingga berjaya menawan Parsi, sebahagian wilayah Rom dan selainnya. Selain itu wujud keamanan sejagat dan Islam yang tersebar luas.

Ketigabelas:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya sendiri; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. [al-Fath 48:10]

Ayat ini menunjukkan kelebihan para sahabat radhiallahu ‘anhum yang memberikan pengakuan taat setia atau bai‘ah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Hudaibiyyah yang dikenali sebagai Bai‘ah al-Ridhwan. Bahkan salah seorang dari kalangan mereka iaitu Salma bin al-Akwa radhiallahu ‘anh telah berjanji setia untuk bai‘ah sehingga mati sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim. Jumlah mereka yang terlibat di dalam bai‘ah tersebut adalah seramai 1400 orang termasuk kebanyakan daripada golongan yang menyertai Perang Badar yang merupakan para sahabat yang terkanan kedudukannya. Yang menjadi pemimpin di kalangan mereka ialah tiga orang Khalifah al-Rasyidin iaitu Abu Bakar, ‘Umar serta ‘Ali radhiallahu ‘anhum. Adapun ‘Utsman radhiallahu ‘anh, beliau telah diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Mekah berjumpa dengan para pemimpin musyrikin Quraisyh untuk tujuan perundingan. Namun apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat berita bahawa ‘Utsman telah dibunuh maka baginda melakukan bai‘ah dengan para sahabat bagi membela kematian ‘Utsman sehinggakan pengakuan taat setia tersebut dikenali sebagai “Bai‘ah ‘Utsman”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan bai‘ah para sahabat radhiallahu ‘anhum dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam umpama bai‘ah mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ala sendiri dimana Allah berfirman: “Tangan Allah di atas tangan mereka.” Ini merupakan suatu kelebihan ke atas para sahabat radhiallahu ‘anhum. Ibn Katsir rahimahullah (774H) di dalam tafsirnya mengulas:[21]

Kehadiran Allah Ta‘ala bersama para sahabat adalah kehadiran dengan pendengaran-Nya bukan kehadiran dengan zat-Nya, dimana Dia dengan sepenuhnya Mendengar serta Menyaksikan apa yang mereka perbuat dengan Pengetahuan yang Sempurna dalam serta luarannya. Dengan itu Allah membai‘ah mereka dengan perantaraan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan mereka yang berbai‘ah dengan ganjaran yang besar. Balasannya adalah syurga serta keredhaan Allah dimana tanpa sebarang keraguan, seluruh para sahabat radhiallahu ‘anhum yang terlibat di dalam bai‘ah tersebut merupakan golongan yang mendapat balasan syurga. Umm Bashir radhiallahu ‘anha telah mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimana baginda telah bersabda ketika bersama Ummul Mukminin Hafsah radhiallahu ‘anha:

لاَ يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا.

Insha Allah, tiada sesiapa dikalangan sahabatku yang memberi bai‘ah di bawah (pokok di Hudaibiyyah) akan masuk neraka.[22]

Jabir radhiallahu ‘anh dia berkata: Seorang hamba bagi Hatib datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadu tentang Hatib sehingga dia berkata: Wahai Rasulullah, Hatib sudah pasti masuk neraka! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

كَذَبْتَ! لاَ يَدْخُلُهَا فَإِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ.

Engkau pembohong, dia tidak akan masuk neraka, dia terlibat di dalam peperangan Badar serta al-Hudaibiyyah.[23]

Kejadian di atas berdasarkan suatu peristiwa dimana hamba Hatib radhiallahu ‘anh mengadu tentang tuannya yang satu masa dahulu pernah melakukan kesalahan, dimana beliau telah menghantar sepucuk surat kepada golongan musyrikin Mekah. Surat tersebut mengandungi perkara rahsia tentera Islam. Akan tetapi, sebagaimana hadis di atas, Allah dan Rasul-Nya telah memaafkan beliau. Dengan kata lain para sahabat yang terlibat di dalam bai‘ah tersebut telah diampunkan segala kesalahan mereka serta mendapat keredhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjadi penghuni syurga.

Bai‘ah tersebut juga termaktub di dalam Shahih al-Bukhari menerusi riwayat Jabir radhiallahu ‘anh dimana dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami:

أَنْتُمْ خَيْرُ أَهْلِ الأَرْضِ.

Pada hari ini, kamu adalah penduduk muka bumi yang terbaik.[24]

Keempatbelas:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا -وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika (mereka) memberikan bai‘ah kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (di Hudaibiyyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahui-Nya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya. Dan juga dengan banyak harta rampasan perang yang mereka akan dapat mengambilnya. Dan (ingatlah), Allah adalah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. [al-Fath 48:18-19]

Ayat ini merupakan dalil dimana golongan yang berbai‘ah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Bai‘ah Ridhwan pada hari Hudaibiyyah bahawa Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah meredhai serta mengampunkan segala dosa mereka. Maka sesiapa yang Allah redha terhadapnya maka Dia tidak akan murka terhadap mereka buat selama-lamanya.

Kenyataan di atas ditujukan juga kepada para sahabat di kalangan mereka yang menyertai Perang Badar, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggikan kedudukan mereka sehinggakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمْ الْجَنَّةُ.

Sesungguhnya diwajibkan ke atas mereka Syurga. Ini diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim serta selain keduanya.[25]

Sesiapa yang pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahului mereka maka kesalahan yang mereka lakukan tidak membahayakan diri mereka. Dengan itu Allah tetap meredhai sebahagian umat iaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerima pertolongan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang telah berjuang di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh kecekalan sehingga sanggup mengorbankan harta benda, keluarga serta jiwa raga mereka.

Kelimabelas:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammad adalah Rasul Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir (yang memusuhi Islam) dan sebaliknya bersikap kasih sayang serta belas kasihan sesama umat Islam. Engkau melihat mereka beribadat rukuk dan sujud dengan mengharapkan limpah kurnia (pahala) dari Tuhan mereka serta mengharapkan keredhaan-Nya. Tanda yang menunjukkan mereka sebagai orang-orang yang salih) terdapat pada muka mereka – dari kesan sujud (dan ibadat mereka yang ikhlas).

Demikianlah sifat mereka yang tersebut di dalam Kitab Taurat dan sifat mereka di dalam Kitab Injil pula ialah: (bahawa mereka diibaratkan) sebagai pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak dan tunas itu menyuburkannya sehingga ia menjadi kuat, lalu ia tegap berdiri di atas (pangkal) batangnya dengan keadaan yang mengkagumkan orang-orang yang menanamnya. (Allah menjadikan sahabat-sahabat Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya berkembang baik serta kuat gagah sedemikian itu) kerana ia hendak menjadikan orang-orang kafir merana dengan perasaan marah dan hasad dengki – dengan kembang biaknya umat Islam itu.

(Dan selain itu) Allah telah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal salih dari kalangan mereka, keampunan dan pahala yang besar. [al-Fath 48:29]

Ayat ini menyatakan pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum sebagaimana yang telah disifatkan di dalam kitab Taurat serta Injil. Allah mensifatkan mereka itu di dalam Taurat dengan 5 sifat yang menunjukkan pujian serta kemuliaan mereka:

1. Bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir,
2. Bersikap kasih sayang serta belas kasihan sesama sendiri,
3. Tetap beribadat rukuk dan sujud mengharapkan limpah kurnia (pahala) Allah,
4. Dan mengharapkan keredhaan Allah
5. (Serta tanda yang menunjukkan mereka sebagai orang-orang yang salih) terdapat pada muka mereka – dari kesan sujud.

Manakala tanda mereka di dalam kitab Injil pula adalah, mereka diibaratkan sebagai pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak dan tunas itu menyuburkannya sehingga ia menjadi kuat, lalu ia tegap berdiri di atas (pangkal) batangnya dengan keadaan yang mengkagumkan orang-orang yang menanamnya.

Pada peringkat permulaannya para sahabat sedikit sahaja jumlah mereka. Kemudian ia bertambah serta menjadi semakin kuat sehinggakan orang-orang kafir merasa gerun terhadap mereka. Firman Allah: “Nabi Muhammad adalah Rasulullah.” Inilah dia Rasul yang diberi nama Muhammad dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisytiharkan baginda sebagai pesuruh Allah yang sebenarnya bukanlah sepertimana yang dikatakan oleh golongan musyrikin. Sesungguhnya para sahabat tersebut bersama-sama dengan baginda serta menyaksikan baginda bersikap tegas terhadap orang-orang kafir yang terang-terangan menentang Islam.

Berkenaan firman Allah: “bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir”, maka menurut ulama’ tafsir:

Begitu keras serta tegas sikap para sahabat terhadap orang-orang kafir sehinggakan mereka berjaga-jaga supaya pakaian mereka tidak terkena (menyerupai) pakaian orang kafir. Dan mereka “bersikap kasih sayang serta belas kasihan sesama umat Islam” dimana apabila salah seorang dari mereka bertemu di antara satu sama lain maka mereka akan mengucapkan salam, berpeluk-pelukan, melemparkan senyuman serta bergelak-ketawa (kerana gembira) sesama sendiri. Engkau akan melihat wahai para pembaca sekalian bahawa mereka itu banyak melakukan rukuk serta sujud sehingga Allah mensifatkan mereka sebagai golongan yang banyak melakukan solat dimana solat itu merupakan sebaik-baik amal bagi mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Para sahabat tekun menunaikan solat-solat sunat selain yang diwajibkan seperti qiamullail dimana mereka tidak mengharapkan dengan ibadat mereka segala habuan dunia melainkan kelebihan dari Allah serta keredhaan-Nya iaitu rahmat, kebaikan dan nikmat.

“Tanda yang menunjukkan mereka sebagai orang-orang yang salih) terdapat pada muka mereka – dari kesan sujud” menunjukkan kepada ketenangan serta kewarakan yang terserlah di wajah mereka yang terhasil dari ibadah yang mereka lakukan siang dan malam. Ini menyebabkan sesiapa sahaja yang melihat mereka akan timbul perasaan kasih sayang. Manakala cahaya wajah yang sebenarnya akan diperlihatkan nanti di Hari Akhirat. Begitulah tanda-tanda para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dinyatakan menerusi Kitab Taurat yang disampaikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Manakala tanda para sahabat radhiallahu ‘anhum sebagaimana yang dinyatakan menerusi Kitab Injil yang disampaikan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam dimana mereka diumpamakan seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Tunas itu menjadikan tanaman itu membesar di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya, menunjukkan bahawa Allah ingin “menjadikan orang-orang kafir merana dengan perasaan marah dan hasad dengki – dengan kembang biaknya umat Islam itu.”

Firman Allah akhirnya: “(Dan selain itu) Allah telah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal salih dari kalangan mereka, keampunan dan pahala yang besar” menunjukkan bahawa janji Allah pasti berlaku dimana Allah tidak akan menyalahi janjinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ganjaran yang setimpal ke atas amal kebaikan yang dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum.

Keenambelas:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى

Tidaklah sama di antara kamu, orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sebelum kemenangan (Nabi menguasai Mekah). Mereka itu lebih besar darjatnya daripada orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sesudah itu. Dan tiap-tiap satu puak dari keduanya, Allah janjikan (balasan) yang sebaik-baiknya. [al-Hadid 57:10]

Ayat ini menerangkan kedudukan para sahabat yang awal di kalangan Muhajirin serta Ansar yang telah menafkahkan harta mereka pada jalan Allah serta berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum pembebasan kota Mekah. Kedudukan mereka tidak menyamai para sahabat yang beriman selepas pembebasan kota Mekah. Bagi golongan yang awal tingkatan darjat mereka melebihi golongan yang terkemudian. Namun ganjaran tetap diberikan terhadap golongan sahabat yang terkemudian walaupun tingkatannya berbeza. Ini kerana mereka bersama-sama mengasihi Allah dan Rasul-Nya serta berjuang dan menginfakkan harta mereka pada jalan Allah. Maka mereka tetap diberikan habuan syurga sebagaimana firman Allah: “Dan tiap-tiap satu puak dari keduanya, Allah janjikan (balasan) yang sebaik-baiknya.”

Ibn Hazm rahimahullah (456H) mengulas:[26]

Para sahabat keseluruhannya adalah ahli syurga dimana tidak seorangpun di kalangan mereka akan masuk neraka. Merekalah yang dinyatakan oleh ayat: “Tidaklah sama di antara kamu, orang-orang yang membelanjakan hartanya… hingga akhir.

Ketujuhbelas:

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ -وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

(Pemberian itu hendaklah diuntukkan) kepada orang-orang fakir yang berhijrah, yang telah diusir keluar dari kampung halamannya dan harta bendanya untuk mencari limpah kurnia dari Allah dan keredhaan-Nya serta menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya; mereka itulah orang-orang yang benar (imannya dan amalnya).

Dan orang-orang (Ansar) yang mendiami negeri (Madinah) serta beriman sebelum mereka, mengasihi orang-orang yang berhijrah ke negeri mereka, dan tidak ada pula dalam hati mereka perasaan berhajatkan apa yang telah diberi kepada orang-orang yang berhijrah itu; dan mereka juga mengutamakan orang-orang yang berhijrah itu lebih daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan kekurangan dan amat berhajat. Dan (ingatlah), sesiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya.

Dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: “Wahai Tuhan Kami! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan Rahmat.” [al-Hasyr 59:8-10]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas merujuk kepada tiga kumpulan atau golongan umat Islam:

1. Golongan Muhajirin yang meninggalkan kampung halaman serta harta benda mereka dengan tujuan berhijrah ke Madinah al Munawwarah bagi mencari keredhaan Allah serta ganjaran-Nya. Mereka itu merupakan golongan yang menolong menegakkan agama Allah dan Rasul-Nya (Islam). Mereka termasuk ke dalam golongan yang benar keimanan mereka berdasarkan nas al-Qur’an (ayat di atas).
2. Golongan Ansar yang tinggal di Madinah. Mereka telah beriman kepada Allah sebelum berhijrahnya golongan Muhajirin ke tempat mereka, iaitu beberapa di antara mereka yang terlibat dalam Bai‘ah al-‘Aqabah. Betapa tingginya kasih sayang yang ditunjukkan oleh golongan Ansar terhadap golongan Muhajirin sehingga sanggup memberikan segala bantuan yang diperlukan sama ada tempat kediaman, harta benda dan ahli keluarga mereka untuk dikahwini oleh lelaki Muhajirin. Sesungguhnya kedua-dua golongan tersebut merupakan pilihan di kalangan umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebabkan oleh kesempurnaan mereka.
3. Golongan yang mengikuti jejak langkah Muhajirin serta Ansar dan memohon doa serta keampunan ke atas mereka sehingga Hari Kiamat.

Itulah ketiga-tiga golongan yang mendapat kejayaan. Golongan Muhajirin dan Ansar merupakan golongan yang paling tinggi darjatnya disebabkan mereka merupakan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berhijrah, membantu serta membela agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka memainkan peranan yang amat besar menegakkan Islam diperingkat awal. Diikuti selepas itu golongan yang mengikuti jalan kebaikan mereka serta memohon keampunan di atas segala kesalahan mereka[27], mengasihi mereka serta tidak memperkatakan tentang mereka kecuali dengan perkara kebaikan.

Di dalam Shahih al-Bukhari, ‘Umar al-Khaththab radhiallahu ‘anh pernah berkata:[28]

Saya berwasiat kepada khalifah sesudahku supaya berlaku baik terhadap sahabat Muhajirin supaya mengetahui kedudukan dan kehormatan mereka. Demikian pula saya berwasiat terhadap sahabat Ansar supaya dapat menerima segala orang yang baik dari kalangan mereka dan memaafkan segala kekurangan serta kesalahan mereka.

Adapun selain dari mereka itu yang merupakan golongan yang suka memaki hamun serta mengutuk para sahabat, merendah-rendahkan kedudukan serta mengkritik amalan mereka, maka mereka itu adalah golongan perosak di kalangan umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka itulah golongan Syi‘ah al-Rafidhah yang dibenci oleh Allah serta Rasul-Nya. Sesungguhnya golongan Yahudi serta Kristian lebih baik serta sejahtera pandangan mereka terhadap para sahabat Nabi-Nabi mereka. al-Sha’bi rahimahullah, seorang tokoh generasi awal umat Islam pernah mengulas:[29]

Yahudi dan Kristian lebih baik dari golongan al-Rafidhah kerana dua sifat mereka iaitu, jika kamu bertanya kepada orang-orang Yahudi: “Siapakah orang-orang yang terbaik di antara pengikut-pengikut agama kamu?” Mereka akan menjawab: “Sahabat-sahabat Nabi Musa.” Sekiranya kamu bertanya orang-orang Kristian: “Siapakah yang terbaik di antara penganut-penganut agama kamu?” Mereka akan menjawab: “Para Hawariyun (sahabat-sahabat Nabi ‘Isa).”

Akan tetapi jika kamu bertanya golongan al-Rafidhah siapakah orang yang paling jahat di antara pengikut-pengikut agama kamu? Mereka akan menjawab: “Sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” Mereka disuruh beristighfar untuk para sahabat tetapi sebaliknya mereka mengutuk sahabat-sahabat tersebut.

Apabila ditanyakan kepada Sa‘id al-Musayyab rahimahullah, seorang lagi tokoh generasi awal, apakah yang kamu katakan terhadap ‘Utsman, Talhah serta Zubair?[30] Maka jawabnya:

Aku akan berkata sebagaimana firman Allah di dalam al-Qur’an: Dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: “Wahai Tuhan Kami! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan Rahmat.” [31]

Al-Suyuthi rahimahullah (911H) mengemukakan sebuah riwayat:[32]

‘Abd Allah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma mendengar seorang lelaki memperkatakan tentang sebahagian golongan Muhajirin lalu beliau membacakan kepadanya firman Allah: “Kepada orang-orang faqir yang berhijrah…” (sehingga akhir ayat 8). Ibn ‘Umar berkata: “Mereka itu adalah golongan Muhajirin, adakah kamu termasuk ke dalam golongan mereka?” Lelaki itu menjawab: “Tidak.” Kemudian Ibn ‘Umar membacakan firman Allah: “Dan orang-orang yang mendiami negeri (Madinah) serta beriman sebelum mereka…” (sehingga akhir ayat 9) lalu bertanya: “Mereka itu merupakan golongan Ansar, adakah kamu termasuk ke dalam golongan mereka?” Lelaki itu menjawab: “Tidak.” Kemudian Ibn ‘Umar membacakan firman Allah: “Dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka… (sehingga akhir ayat 10) lalu bertanya: “Adakah kamu termasuk ke dalam golongan mereka?” Lelaki itu menjawab: “Ya.” Lalu berkata Ibn ‘Umar: “Tidak termasuk golongan ini mereka yang mencela golongan (Muhajirin dan Ansar).

Kesimpulannya: Apa yang kami paparkan di sini yang berupa kenyataan dari al-Qur’an tentang kelebihan para sahabat radhiallahu ‘anhum. Para sahabat ini, sebahagian besar daripada mereka didustakan oleh golongan Syi‘ah al-Rafidhah. Mereka hanya menerima sebahagian kecil daripada para sahabat iaitu di kalangan Ahl al-Bait.[33] Maka kami akan mengikuti perbincangan ini dengan mengemukakan kelebihan para sahabat berdasarkan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimana apabila dinyatakan hadis-hadis tersebut kepada golongan Syi‘ah al-Rafidhah pasti mereka akan berkata: Sesungguhnya ia adalah dusta serta palsu belaka. Maka dengan izin Allah kami akan membahaskan perkara ini di dalam babnya yang khusus seterusnya.

>> 6. Para Sahabat Menurut al-Sunnah al-Nabawiyah

[1] Catitan penyunting:

Penyebaran Islam ke negara-negara baru tidak dikenali sebagai “jajahan” tetapi “pembukaan (al-Fath)” yakni membuka negara tersebut daripada kegelapan syirik kepada kecerahan tauhid dan daripada kejahilan turun temurun kepada ilmu yang berdasarkan kajian dan pemerhatian. Penyebaran Islam ke negara-negara baru tidak menukar agama, adat dan kebudayaan negara tersebut selagi mana ia tidak mengandungi unsur syirik dan kurafat. Penyebaran Islam ke negara-negara baru juga tidak menyebabkan hasil-hasil peribumi negara tersebut direbut dan dimonopoli oleh umat Islam.

Ini berbeza dengan negara-negara barat yang apabila memasuki sebuah negara lain, mereka berusah



7 | yulius dwi putra (MUHAMAD LUTFAN)
Februari 28th, 2008 at 00:00

salam ana untuk Ahmad, antum ad YM ? ana perlu banyak diskusi dengan antum.kalo ada ana tunggu kabarnya.syukron
wassalam…
alih waalihi shalawat



8 | doni
Maret 11th, 2008 at 00:00

manis sekali perkataan si pembuat artikel ini, seperti pahlawan saja layaknya, mengajak para muslim untuk anti terhadap syi’ah, anda bilang propaganda sesat, makar, keturunan babi dan kera, saya tidak faham mana yana sesat? manusia tukang hujat seperti anda kah? atau manusia yang mencintai perselisihan kah? atau…?
kalo memang anda anggap syi’ah sesat, kasih tau mereka, datang ke alamat2 yang anda sudah tulis kan di artikel anda, tapi memang harus dengan syarat…… bahwa anda memang laki2, dan punya keberanian untuk mengatakan itu sesat dihadapan mereka, jangan cuma berani nya hanya menggembar gemborkan di internet saja, akuilah bahwa anda banci, karena saya sangat pasti bahwa anda tidak berani melakukannya… he..he..he, maaf ya, saya cuma manusia yang sangat tidak suka sikap sembunyi2, banci, tidak bertanggung jawab dll. saya juga adalah manusia yang tidak suka dengan manusia yang cuma bisa menghujat dan apalagi memecah belah muslim indonesia, atau jangan2 anda seorang yahudi, nasrani, atau justru anda lah si babi dan si kera itu….? ha..ha..ha.. maaf lagi deh, santai aja blog…



9 | Abu Abdillah
Maret 12th, 2008 at 00:00

Assalaamu’alaikum untuk setiap yang diatas al haq dan selalu ruju’ kepada Al Haq…

Iya betul Mas Ahmad memalsukan hadits juga bisa dimungkinkan…

jika di kalangan shahabat saja dianggap tidak adil, padahal mereka itu diatas ijma’ kaum muslimin adil

lalu bagaimana kaum muslimin menjadikan orang2 syi’ah yang menjadikan kedustaan (taqiyyah) itu sebagian dari aqidahnya, menjadi perawi-perawi hadits….
kapan orang syi’ah sedang jujur atau sedang bertaqiyyah kita tidak tahu …..
silahkan baca kitab Syaikh Ihsan Ilahi dhahir…Virus Syi’ah
dan beliau secara adil menukil dari tulisan dan perkataan-perkataan syi’ah itu sendiri…

lalu soal ahlul baiyt
ahlul bait yang mana maksud antum mas Ahmad ?
definisi ahlul bait itu siapa saja?

Abdullah Ibnu Abbas juga Ahlul bait beliau, begitu juga A’isyah, begitu juga Zaid bin Ali, megitu juga Muhammad bin Idris Asy Syafi’i beliau memiliki nasab yang mulia dan dekat dengannasab Rasulullah….beliau ahlul baiyt juga dong ?

apa mungkin ahlul bait yang orang2 syi’ah anggap sesuai dengan pemikiran mereka ?

silahkan pembaca yang menilai



10 | Abu Abdillah
Maret 12th, 2008 at 00:00

Lalu atas jasa siapa Baghdad hancur lebur dan ratusan ribu bahkan mungkin jutaan kaum muslimin disana wafat oleh bangsa tartar ?
melainkan atas jasa syi’ah

lalu atas jasa siapa pula Penduduk Lebanon modern kemarin diserbu rudal2 israel ?
melainkan atas jasa israel

lalu atas jasa siapa pula Irak modern jatuh ke tangan kuffar ?
melainkan atas jasa syiah

silahkan lihat kesesatan syiah dan tokoh2nya di sini

http://www.hakekat.com



11 | Abu Abdillah
Maret 12th, 2008 at 00:00

lalu kenapa pula imam-imam ma’shum (menurut syi’ah) hanya dari keturunan Al- Husein ?

mengapa tidak ada yg keturunan dari Al-Hasan ?
padahal Al-Hasan adalah kakak dari Al-Husein, dan pernah menjadi Khalifah meskipun sebentar, dan menurut Syi’ah Al-Hasan adalah Imam ma’shum kedua ?
bagaimana bisa, keturunan dari yang ketiga (Al-Husein) menjadi lebih utama dari yang kedua ?

padahal Syiah sendiri dalam da’wahnya mengatakan bahwa nenek moyang yang menurunkan Ali bin Abi Thalib itu lebih utama dari nenek moyang Khulafa’ur Rasyidin sebelumnya, lalu bagaimana bisa Keturunan Al-Hasan yang juga keturunanan Ali bin ABi Thalib, dan cucu Nabi, Anak Fatimah binti Rasulullah tidak ada yang menjadi Imam Ma’shum ?

oiya dan ana menjawab kommen mas Ahmad ini hanya berdasarkan akal, seperti yang mas Ahmad yang mengatakan

“…m’atasnama’kn sunnah namun pd k’nyataan’nya sama sekali tdk p’nah m’guna’kn akal u/ brsyukur atas sunnah itu sndri sdikit pun….”

dan jangan katakan anda sedang bertaqqiyah terhadap sidang pembaa kaum muslimin….



12 | Abu Abdillah
Maret 12th, 2008 at 00:00

afwan Ralat…khusus mod

pada postingan kedua

“..lalu atas jasa siapa pula Penduduk Lebanon modern kemarin diserbu rudal2 israel ?
melainkan atas jasa israel..”

yang benar

‘…atas jasa Syi’ah

pada postingan ke tiga

“…terhadap sidang pembaa kaum muslimin….”

yang benar

“terhadap sidang pembaca kaum muslimin…”



13 | hanehasan
Maret 18th, 2008 at 00:00

Hai wahabi bisanya anda menuduh yg lain kafir, merasa paling benar. Tahukah Anda yang disebut nabi kum takfiriyin yang akan dibasmi terlebih dahulu oleh imam mahdi sebeleum memerangi zionis?



14 | ummu_haidar
Maret 22nd, 2008 at 00:00

saya mau nanggapi mas doni…..
Betul mas…. saya setuju! simple aja koq…. kalo mereka bilang kita orang syiah sesat sampai kapanpuna mereka nggak akan bisa buktikan kebenarannya…. Tapi….
kita bisa membuktikan satu kebenaran mutlak yang mutlak tak terbantahakan..! Yaitu….
Mereka benar2 banci karena mereka hanya bisa bicara omong kosong di internet aja bukan dengan dialog sehat. setujuuuu? …….



15 | masonic
April 1st, 2008 at 00:00

kenapa sich kalian sesama islam selalu saling menghina dan mencela satu sama lain…?? apakah ini yang diinginkan oleh tuhan dan para nabi kalian….?? amalkan saja faham masing-masing sambil bertawakal semoga masing-masing kita ada di jalan yang benar, dan jika kita salah semoga tuhan memaafkan kita.
Shahīh Muslim, vol. 7, hal. 130
Aisyah berkata, “Pada suatu pagi, Rasulullah saw keluar rumah menggunakan jubah (kisa) yang terbuat dari bulu domba. Hasan datang dan kemudian Rasulullah menempatkannya di bawah kisa tersebut. Kemudian Husain datang dan masuk ke dalamnya. Kemudian Fatimah ditempatkan oleh Rasulullah di sana. Kemudian Ali datang dan Rasulullah mengajaknya di bawah kisa dan berkata,
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]:33)

untuk anda-anada yg berpegang pada dalil di atas ya sudah…jalankan saja…untuk anda-anda yg sunni dan menolak dalil diatas ya sudah…tidak perlu menghina dan menistakan satu sama lain…nabi aja ga pernah mencela dan menghina kafir yahudi sekalipun dia dicaci dan dilempar kotoran…tugas kita menteladani nabi untuk selalu beribadah dg ikhlas dan mendoakan semoga kita dan orang-orang yg tersesat di bimbing /di beri pencerahan ke jalan tuhan.



16 | ressay
April 6th, 2008 at 00:00

mohon tidak di hapus.

silakan Anda berdiskusi di http://jakfari.wordpress.com



17 | Al_Saud bin Baz
April 8th, 2008 at 00:00

Saya menghimbau kepada seluruh umat Islam utk sadar dari kesesatannya. Kebenaran Hanya milik Agama Wahabi. Arab Saudi adalah poros kebenaran. Oleh karena itu ikutilah petunjuk agama wahabi yg sebenarnya, tunduklah pada Pemimpin arab saudi, jangan membangkang.

Seandainyapun Arab saudi lebih pro Amerika daripada Palestina, itu sudah menjadi permufakatan politik. Utk sementara Seluruh umat agama Wahabi juga memaklumi bahwa amerika adalah negara kuat. Daripada kita membela Palestina yg nggak jelas agamanya…

Dengan kesadaran pastikan seluruh umat Islam mengakui kebenaran agama Wahabi…. Muhammad ibn Wahab, AS sang nabi wahabi selalu kita bersholawat utknya. Dan kepada Sultonul ambiya Ibnu Taimiyyah SAW semoga kesejahteraan utk beliau.

Andaikata Muhammad NAbinya Umat Islam lahir sejaman dengan Ibnu Taimiyyah SAW, pastilah Muhammad akan mengikuti fatwa-fatwa Ibnu Taimiyyah SAW.

Sadarlah wahai umat ISlam, sadarlah dengan kesesatanmu dan masuklah agama wahabi dengan ikhlash.



18 | niko
April 10th, 2008 at 00:00

Assalamu’alaykum,
ISLAM dan syiah ndak mungkin bersatu. Bertolak belakang 180 derajat. Untuk ikhwah Ahlussunnah wal Jama’ah, tugas kita hanya memperingatkan kaum Muslimin dari bahayanya Syi’ah, jadi kita ndak perlu repot2 membantah sampah yang keluar dari mulut kotor mereka. Dakwah yang ikhlas, untuk menegakkan Islam, membersihkannya dari polutan2 seperti Syi’ah dan semacamnya. InsyaALLAH kalau masyarakat tahu yang benar seperti apa, maka otomatis mereka akan tahu sendiri kalau ada yang menyempal dan bukan bagian dari ISLAM.
Semoga ALLAH menunjukkan kita jalan yang benar…..



19 | hadi
April 10th, 2008 at 00:00

kepada al akh abu zaid, barokallahu fikum wa zadakumullah `ilmak. akhy, mudah2an Allah menyadarkan orang2 syi`ah dan membuat orang2 menjauhi syi`ah dengan perantara tulisan antum. tapi akhil karim, hendaknya ketika kita menasehati suatu jama`ah yang menyimpang pemikirannya baik dalam bentuk tulisan atw komentar, gunakanlah kata yang santun. siapa yang mau menerima kalo mereka dinasehati dengan dikatakan “keturunan kera dan babi”. antm coba pelajari buku “14cara hikmah dalam bed`wah”. di sana diungkapkan bagaimana cara sy.Muqbil menasehati orang syi`ah, shg dg perantaranya Allah menunjuki orang tsb. demikian juga nasehat sy, albani kepada sy. rabi’; setelah memuji sy.rabi` dalam membantah sayid qutub, beliau mengatakan yang maknanya +- “kalau sekiranya metode sy, rabi` diperhalus, mka akan lebih baik”. d`wah salaf sudah terlanjur dicap sebagian orang dengan keras&kaku. hendaknya bagi kita yang berd`wah baik dengan lisan maupun tulisan berusaha membuktikan bahwa anggapan mereka salah. tentunya kita sedih apabila Allah dan Rasul-Nya didustakan karena thoriqoh d`wah kita yang keliru. tentunya setiap bantahan itu ditujukan supaya mereka sadar&menerima, maka dari itu ilmuilah caranya agar orang sadar&menerima. Mudah2an komentar ana ini termasuk membuat antm semakin bersemangat dlm belajar, beramal&beda`wah.



20 | AlAsyari
April 10th, 2008 at 00:00

Setan…. Agama wahabi ?
Saya lebih baik murtad dan masuk kristen daripada memeluk wahabi. Islam adalah kebenaran, tapi hanya ahlussunnah yang murni ya Nahdatul Ulama (NU).

Yang lain jangan sok-sok klaim ahlussunnah, ntar dosa besar… Lihat aja wahabi dan muhammadiyyah mereka bukan Islam mereka memang agama tersendiri… yang benar itu cuman NU.



21 | Abu_Hanifah
April 15th, 2008 at 00:00

untuk Al-Asyari memang Islam hanya NU aja ? kami yang menganut wahabi telah memurnikah ajaran Islam sejak lama. kami tidak pernah berbuat bid’ah seperti mengadakan maulid nabi, sholawatan setelah azan, bersalaman setelah sholat, apalagi mengadakan tahlilan bila ada famili yang meninggal. sebab hal itu tidak dicontohkan nabi.

Oleh karena itu tuduhan bahwa kami tidak termasuk Ahlussunnah wal jamaah itu sama sekali tidak berdasar. Jsutru pemahaman NU yang harus diluruskan. Mazab kami adalah mazab yang paling lurus dan paling sesuai dengan ajaran Nabi Saw.

bahkan mazab wahabi sebagian telah diadopsi oleh teman2 dari Hizbuttahrir, Persis, Al-Irsyad, Muhammadiyah dan dari teman2 PKS (partai politik) walaupun nabi dulu tidak berpolitik. mereka semua juga sudah menghindari bid-ah2 yang telah saya sebutkan diatas.

Oleh sebab itu seluruh tuduhan anda sangat tidak berdasar, bahkan menurut mazab kami warga NU bukan termasuk Ahlussunnah yang sebenarnya, sebab tradisi NU sering banyak melakukan hal2 yang kami sebutkan diatas dan itu termasuk bid`ah.

Kami siap berdiskusi masalah apakah NU masuk ahlussunnah atau tidak ? silakan antum merespon tanggapan saya ini.



22 | coang
April 16th, 2008 at 00:00

waspada paham wahaby…apalagi wahaby lokalan…
antek2 yahudi,ketahuilah akhlak anda lebih utama dari pada saling mengkafirkan sesama muslim…ingat apapun tutur kata anda sampai saat ini akan dimintai peranggung jawaban..



23 | magetsari
Mei 6th, 2008 at 00:00

Shobat semua… sudahlah hentikan semua tudingan sesat terhadap kelompok lain. Agama itu mengendap pada pikiran merupakan hasil reproduksi akal dan pikiran atau gagasan manusia tentang agama yang dipeluknya. Sebaiknya berikan gagasan dan tafsiran anda tentang agama yang benar-benar dapat diterima oleh akal dan pikiran sehat manusia. Bukan bertopeng pada pemahaman ulama yang sebenarnya juga merupakan reproduksi pemikiran keagamaannya, yangggg tentu saja juga bisa salah. Dalam dunia pemasaran, masyarakat adalah konsumen. Kalau anda produsen, produklah barang yang memang bisa diterima konsumen, jangan minta proteksi pada siapoapun. Agama juga begitu, agama yang anda pahami adalah gagasan dan tafsiran anda tentang agama, sementara umat adalah konsumen yang akan membeli gagasan dan pikiran anda (menerima). kalau produk gagasan dan tafsiran anda tidak bermutu pastikan bahwa produk anda tentang agama tidak laku. Aliran-aliran yang anda tuduh sesat ternyata mampu meyakinkan orang dan mereka semakin bertambah. Terus anda mau bagaimana!!!! Saya hanya kasihan pada anda, sempat-sempatnya anda menginventarisir kelompok lain sesat dengan segala argumen dan gagasan anda yang di kalangan anda sendiri banyak tidak laku. Atauuuuu anda hanya dapat hidup dengan cara melihat kejelekan orang lain. Silahkan merenung, agar hidup anda lebih bermakna dan hayo kita fastabiqul khairat.



24 | magetsari
Mei 6th, 2008 at 00:00

Hee kawan, orang bijak berkata:”Kuman di seberang lautan nampak segede gajah, tetapi gajah dipelupuk mata tidak kelihatan” hee hee hhee. Aku kasihan melihat anda sibuk mencari kesalahan orang lain yang sudah mati-matian berusaha beragama secara baik, mereka rajin shalat lima waktu, mereka rajin infaq dan sedekah, mereka rajin memberdayakan umat secara bersama-sama, mereka saling bantu membantu dalam segala urusan kebaikan, barisannya rapi karena dipimpin oleh seorang imam yang mereka percaya, mereka memiliki pemimpin yang memang layak diikuti, mereka memiliki semangat akademis tinggi dan argumen keagamaan mereka luar biasa secara akademis, sehingga mereka mengikuti kelompok keagamaan baru itu sudah melalui proses panjang, tidak secara tiba-tiba begitu ada ustadaz datang menjelaskan agama langsung diterima sebagaimana keinginan anda. Sementara anda hanya sibuk mengkoreksi kelompok lain dan apa sumbangan anda pada islampun juga tidak jelas, kecuali membuat keonaran di berbagai belahan bumi pertiwi dengan menenteng bukunya Hartono Ahma Zaiz atau Amin Jamaluddin yang tidak jujur melihat kenyataan itu. Kasihan anda, waktu habis untuk menghimpun kedengkian dankbenecian kepada kelompompok lain. Cobalah melihat yang lain lebih positif dan tanpa prasangka, lebih baik lagi jika anda melihat dengan kejujuran. Atau cobalah ikut pengajianmereka yang dilaksanakan secara rutin dan sangat akademis itu, sehingga anda akan mendapatkan mutiara-mutiara ilmu dan kebijaksanaan yang sangat penting dalam pendewasaan spiritual anda. Gitu saja. Aku senang jika anda produktif untuk kebaikan, bukan produktif menginventarisir kesalahan orang….. Itu tak ada guanya kawan.



25 | YULIYUS
Mei 29th, 2008 at 00:00

buat yang membuat berita di website ini yang bernama aboezeid kalau anda memang orang yang benar dan berani mari kita diskusi dan berdebat tentang ajaran islam yang sesungguhnya yang memang benar-benar ajaran dari Rasulullah saw anda bawa literatur yang lengkap yang anda punya dan saya bawa juga literatur yang lengkap. atau mungkin anda ini bukan orang islam atau muslim. yang mengaku-ngaku islam.



26 | YULIYUS
Mei 29th, 2008 at 00:00

buat orang-orang yang mengatakan syiah itu sesat. adalah orang-orang atau manusia yang bodoh sekaligus buyan kato wong palembang tu.yang harus tinggal di hutan belantara terutama buat aboezaid yang bloon itu.
Kalau memang anda hebat mari kita ketemu.



27 | Kumayl
Juni 7th, 2008 at 00:00

Ini tahun 2008, Bung. Lihat konferensi di Arab Saudi kemarin. Ayatollah jalan bareng Raja Arab Saudi. Wahabi sudah usang. Wahabi bukan Ahlussunnah wal Jama’ah. Ngaku-ngaku doang. Wong dedengkotnya Wahabi saja dianggap sesat oleh saudaranya sendiri. Think!



28 | REZA
Juni 29th, 2008 at 00:00

kunjungi blog gue ttg ramuan madu mashikama, klo ada pesanan, silahkan hubungi gue. thx alot



29 | temmy
Juli 18th, 2008 at 00:00

perkenalkan, saya ibunda luna zahra,
tersenyum miris membaca blog ini. Andai anda tahu bagaimana isi dari ajaran syiah ini…anda akan menyesali diri krn telah mengotori diri dan kalbu anda sendiri. Pencinta ahlul bayt akan terus berdiri, meskipun berbagai rintangan menghalagi.

Hai ahlul bayt Rosulullah..kami akan terus membelamu…meskipun bila hanya menjadi debu bagimu…



30 | eagle
September 26th, 2008 at 00:00

Alhamdulillah…dengan postingan alamat2 yayasan syiah ini…
ana jadi banyak tahu insya Allah ane bisa belajar dari yayasan ini yg deket rumah ane nanti…..
bener nggak kata penulis blog ini

thanks ya



31 | uchiha_yury
September 28th, 2008 at 00:00

Assalamu Alaikum wr wb..
Mendingan baca deh
Al-Majilisi,bihar al -anwar, juz 23 hal 320:
“Allah SWT menjadikan 70.000 malaikat dari cahaya wajah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yg memohonkan ampun utk beliau dan pengikut beliau hingga hari kiamat”

coba dipikir deh, apa benar malaikat itu di jadikan dari cahaya seseorang…mustahil kan…

klo gak cb deh di baca dengan seksama;
Al-Majlisi,Bihar al-anwar, juz 8 hal 368
“menolak imamah hukumnya KUFUR,seperti halnya menolak kenabian.Karena tdk mengetahui keduanya berada dalam satu batas yg sama”

hebat ya!!!!koq bs menyamakan derajat ny dengan ke 24 Nabi dari Nabi Adam AS — Nabi Isa AS…
TERLEBIH LAGI ORG2 SYIAH LAH (DLM ARTI ITSNA ASYARIYAH) INI YG MENJADIKAN ORG2 SELAEN MRK ITU KAFIR!!!!
JD MRK (SYIAH) BERDALIH BAHWA MERASA DI BILANG YG TIDAK BENAR,,,PADAHAL CUKUP SAYA AMBIL SATU SUMBER MRK (BIHAR AL ANWAR) SEBENARNYA MRK LAH YG MENGKAFIRKAN SAUDARA ISLAM NY YAITU SUNNAH..

MOHON MJD BAHAN RENUNGAN,,SAUDARA2KU SYIAH



32 | dina
Januari 8th, 2009 at 00:00

ya Allah kalau sesama muslim aja saling berperang, bagaimana mungkin Islam akan jaya, kalau sesama muslim merasa lebih baik menjadi kafir daripada membantu sesama saudara muslim yang sama sama bersyahadat dan membaca alquran tentu saja islam sangat mungkin dipecah belah, mereka lebih suka melihat saudaranya bersimbah darah daripada bersatu bersama saudaranya memerangi kebhatilan. Hanya Allah yang berhak menghakimi kafir atau tidaknya seseorang, berdosa atau tidaknya manusia itu. Kalau masih menyebut dirinya Islam bukankah Islam itu bersaudara? Rasul tidak pernah mengajarkan sunni, syiah, suffi. Yang ada hanya islam. Urusan dosa dan kafir hanya Allah yang tahu



33 | halik
Januari 27th, 2009 at 00:00

saran saya kepada teman2, sebelum menggugat, baiknya carilah dari sumber yang otentik agar anda bisa melihat secara objektif bukan prasangka subjektif, jangan takut membaca buku-buku syiah jika kalian merasa benar, semoga Tuhan melindungi kita dari prasangka. aminnnn



34 | salepo
Januari 29th, 2009 at 00:00

Bersatulah umat Islam jangan terpeah karena sesuatu yang remeh, dalam Al Quran sangat jelas dimana umat Islam juga mengimani Zabur,taurat,Injil dan al quran. Berarti dengan ahli Kitab (injil, taurat dan zabur) harus saling bekerjasama bahkan Kafir Dzimi juga harus dilindungi kalau kafir harbi (menyerang) ya harus diperangi. Apalagi syiah, sunni, wahabi, Nu, Muhammadiyah adalah semua ahli sunnah wal jamaah wong mereka semua sumbernya adalah Alquran dan Sunnah dan kemudian berjamaah (bersatu) jadi yang sesat adalah sesama umat islam tapi tidak mau berjamaah atau bersatu


Leave a Reply
Klik di sini untuk membatalkan balasan.
Your Name (required)

Your Email (required)

Your URL



Post
Notify me of follow-up comments via email.
Search
DARI ADMIN
Ini adalah Blog Pribadi
Aboe Zayd el-Posowy as-Salafy
Diperbolehkan mencopy dan menyebarkan isi blog ini dengan syarat mencantumkan sumbernya
http://salafiyunpad.wordpress.com
Segala saran dan kritik yang membangun dari Anda silakan kirim ke email:
salafiyunpad@yahoo.co.id
Jazakumullah Ahsanal Jaza' telah mengunjungi blog kami
ADMIN