Kamis, 05 Februari 2009

KESESATAN SHALAWAT BID'AH
Diposting oleh Team Ihya As-Sunnah di 4:11 PM


Kita banyak mendengar lafazh-lafazh bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam yang diada-adakan (bid'ah) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, para sahabat, tabi'in, juga tidak oleh para imam mujtahid. Tetapi semua itu hanyalah buatan sebagian masyayikh (para tuan guru) di kurun belakangan ini. Lafazh-lafazh shalawat itu kemudian menjadi terkenal dikalangan orang awam dan ahli ilmu, sehingga mereka membacanya lebih banyak daripada membaca shalawat tuntunan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Bahkan mungkin mereka malah meninggalkan lafazh shalawat yang benar, lalu menyebarluaskan lafazh shalawat ajaran para syaikh mereka.


Jika kita renungkan mendalam makna shalawat-shalawat tersebut, niscaya kita akan menemukan di dalamnya pelanggaran terhadap petunjuk Rasul, orang yang kita shalawati.


Di antara shalawat-shalawat bid'ah tersebut adalah:


1. Shalawat Basyisyiyah


lbnu Basyisy berkata, "Ya Allah, keluarkanlah aku dari lumpur tauhid. Dan tenggelamkanlah aku dalam mata air lautan keesaan. Dan lemparkanlah aku dalam sifat keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar atau merasakan kecuali dengannya."


Ini adalah ucapan orang-orang yang menganut paham Wahdatul Wujud.Yaitu suatu paham yang mendakwakan bahwa Tuhan dan makhIuk-Nya bisa menjadi satu kesatuan.Mereka menyangka bahwa tauhid itu penuh dengan lumpur dan kotoran, sehingga mereka berdo'a agar dikeluarkan daripadanya.


Selanjutnya, agar ditenggelamkan dalam lautan Wahdatul Wujud.Sehingga bisa melihat Tuhannya dalam segala sesuatu. Bahkan hingga seorang pemimpin mereka berkata, "Dan tiadalah anjing dan babi itu, melainkan keduanya adalah tuhan kita. Dan tiadalah Allah itu, melainkan pendeta di gereja. "


Orang-orang Nasrani menyekutukan Allah (musyrik) ketika mereka mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah anak Allah. Adapun mereka, menjadikan segenap makhluk secara keseluruhan sebagai sekutu-sekutu Allah! Mahatinggi Allah dan apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrik.


Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, berhati-hatilah terhadap lafazh-lafazh bacaan shalawat bid'ah, karena akan menjerumuskanmu dalam perbuatan syirik. Berpegang teguhlah dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, seorang yang tidak mengatakan sesuatu menurut kehendak hawa nafsunya. Dan janganlah engkau menyelisihi petunjuknya, "Barangsiapa melakukan suatu amalan (dalam agama) yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak." (HR. Muslim)


2. Shalawat Nariyah


Shalawat nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, atau hajat dikabulkan, niscaya akan terpenuhi.


Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafazh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Secara lengkap, lafazh shalawat nariyah itu adalah sebagai berikut,"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan sahabat-nya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui."


Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo'a.Setiap muslim tidak boleh berdo'a dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit-nya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).


Al-Qur'an mengingkari berdo'a kepada selain Allah, baik kepada para rasul atau wali. Allah berfirman,


Katakanlah, 'Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memin-dahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan siksaNya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti." (Al-lsra': 56-57)


Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdo'a dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih dan jenis makhluk jin.


Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur'an menyeru kepada beliau untuk memaklumkan,


"Katakanlah, 'Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raaf: 188)


"Seorang laki-laki datang kepada Rasululllah Shallallaahu 'alaihi wa Salam lalu ia berkata kepada beliau, 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu." Maka Rasulullah bersabda, 'Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah, "Hanya atas kehendak Allah semata." (HR. Nasaa'i, dengan sanad shahih)


Di samping itu, di akhir lafazh shalawat nariyah tersebut, terdapat pembatasan dalam masalah ilmu-ilmu Allah. Ini adalah suatu kesalahan besar.Seandainya kita membuang kata "Bihi" (dengan Muhammad), lalu kita ganti dengan kata "BiHaa" (dengan shalawat untuk Nabi), niscaya makna lafazh shalawat itu akan menjadi benar. Sehingga bacaannya akan menjadi seperti berikut ini:"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk Muhammad, yang dengan shalawat itu diuraikan segala ikatan ..."


Hal itu dibenarkan, karena shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam adalah ibadah, sehingga kita boleh bertawassul dengannya, agar dihilangkan segala kesedihan dan kesusahan.Kenapa kita membaca shalawat-shalawat bid'ah yang merupakan perkataan manusia, kemudian kita meninggalkan shalawat lbrahimiyah yang merupakan ajaran AI-Ma'sum?


3. Shalawat dalam Kitab Ad'iyatush Shabaahi wal Masaa'i.

Dalam kitab Ad'iyatush Shabaahi wal Masaa'i, karya seorang syaikh besar dari Suriah Ia mengatakan, "Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu."


"Segala sesuatu", berarti termasuk di dalamnya Adam, lblis, kera, babi, lalat, nyamuk dan sebagainya. Adakah seorang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya Muhammad? Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan, juga mengetahui dari apa Adam diciptakan, sebagaimana dikisahkan dalam AI-Qur'an,

"Iblis berkata, 'Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah." (Shaad: 76)


Ayat di atas mendustakan dan membatalkan ucapan syaikh tersebut.Termasuk lafazh shalawat bid'ah adalah ucapan mereka, "Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wahai Rasulullah. Telah sempit tipu dayaku maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah."


Bagian pertama dari shalawat ini adalah benar, tetapi yang berbahaya dan merupakan syirik adalah pada bagian kedua. Yakni dari ucapannya:

Hal ini bertentangan dengan firman Allah;"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepadaNya?" (An-Naml: 62)


Dan firman Allah "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri." (Al-An'am: 17)


Sedangkan Rasulullah sendiri, manakala beliau ditimpa suatu kedukaan atau kesusahan, beliau berdo'a, "Wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku Memohon pertolongan-Mu." (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)


Jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita diperbolehkan mengatakan kepada beliau, "Perkenankanlah hajat kami, dan tolong-lah kami?"Lafazh ini bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam: "Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)


4. Shalawat AI-Fatih

Lafazhnya:"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup?"


Orang yang mengucapkan shalawat ini menyangka, bahwa barangsiapa membacanya maka baginya lebih utama daripada membaca khatam Al-Qur'an sebanyak enam ribu kali. Demikian, seperti dinukil oleh Syaikh Ahmad Tijani, pemimpin thariqah Tijaniyah.


Sungguh amat bodoh jika terdapat orang yang berakal mempercayai hal tersebut, apatah lagi jika ia seorang muslim. Sungguh amat tidak mungkin, bahwa membaca shalawat bid'ah tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur'an sekali, apatah lagi hingga enam ribu kali. Suatu ucapan yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.


Adapun menyifati Rasulullah dengan "Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup" secara mutlak, tanpa membatasinya dengan kehendak Allah, maka adalah suatu kesalahan. Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam tidak membuka kota Makkah kecuali dengan kehendak Allah. Beliau juga tidak mampu membuka hati pamannya sehingga beriman kepada Allah, bahkan ia mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Bahkan dengan tegas Al-Qur'an menyeru kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, ..." (Al-Qashash: 56)"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (AI-Fath: 1)


5. Shalawat dalam Kitab Dalaa 'ilul Khairaat


Pada bagian ke tujuh dari kitabnya mengatakan, "Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad selama burung-burung merpati berdengkur dan jimat-jimat (tamimah) bermanfaat."

Tamimah (suatu bentuk jimat) yaitu tulang, benang atau lainnya yang dikalungkan di leher anak-anak atau lainnya untuk menangkal atau menolak 'ain (pengaruh mata dengki).

Perbuatan tersebut tidak memberi manfaat kepada orang yang mengalungkannya, juga tidak terhadap orang yang dikalungi, bahkan ia adalah di antara perbuatan orang-orang musyrik.Rasulullah bersabda:"Barangsiapa mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik". (HR. Ahmad, hadits shahih)


Lafazh bacaan shalawat di atas, dengan demikian, secara jelas bertentangan dengan kandungan hadits, karena lafazh tersebut menjadikan syirik dan tamimah sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Terdapat lagi lafazh bacaan shalawat dalam kitab Dalaa 'ilul Khairaat sebagai berikut: "Ya Allah limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tak tersisa lagi sedikit pun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad, sehingga tak tersisa sedikit pun dari rahmat."

Lafazh bacaan shalawat di atas, menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Allah membantah ucapan mereka dengan firman-Nya, "Katakanlah, 'Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (AI-Kahfi: 109)



6. Shalawat yang disebutkan salah seorang sufi dari Libanon dalam kitabnya yang membahas tentang keutamaan shalawat, lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ اْلأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ

“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”

Padahal sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah, keduanya termasuk sifat-sifat Allah Azza wajalla. Maka, bagaimana mungkin kedua sifat Allah ini diberikan kepada salah seorang dari makhluk-Nya padahal Allah Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)



7. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)

Lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah.”

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-28 8)

Cukuplah keutamaan palsu yang disebutkannya, yang menunjukkan kedustaan dan kebatilan shalawat ini.




8. Shalawat Badar

Shalawat Badar

Lafadz shalawat ini sebagai berikut:

shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah

shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah

tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah

wa kulli majahid fillah

bi ahlil badri ya Allah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah

Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah

Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah


Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:

1. Penyebutan Nabi dengan habibillah

2. Bertawassul dengan Nabi

3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr


Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.

Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah Idan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.

Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ

“Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)



Demikian pula di antara doa Nabi: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 199)


Bertawassul dengan nama Allah I seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masih hidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawassul terlarang.


Dari semua penjelasan diatas maka tinggalkanlah semua shalawat-shalawat bid’ah sebab dapat membuat kita syirik pada Allah.Sedangkan shalawat yang disyari’ahkan adalah yang telah dituntunkan Allah dan Rasulnya.Berikut ini penjelasan keutamaan membaca shalawat untuk Rasulullah yang disyari’ahkan:

Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56)


Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu 'Aliyah berkata, "Shalawat Allah adalah berupa pujian-Nya untuk nabi di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat adalah do'a (untuk beliau)." Ibnu Abbas berkata, "Bershalawat artinya mendo'akan supaya diberkati."

Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yaitu, "Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala menggambarkan kepada segenap hamba-Nya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasih-Nya di sisi-Nya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya, sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta."


Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo'akan dan bershalawat untuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain Allah, atau membacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia.


Bacaan shalawat untuk Rasulullah yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda, "Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia." (HR Al-Bukhari dan Muslim)


Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah untukku. Karena se-sungguhnya barangsiapa yang bershalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia ada-lah suatu tempat (derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia berhak menerima syafa'atku." (HR. Muslim)


Do'a memintakan wasilah seperti yang diajarkan Rasulullah dibaca dengan suara pelan. Ia dibaca seusai adzan dan setelah membacakan shalawat untuk nabi. Do'a yang diajarkan beliau yaitu: "Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan." (HR. Al-Bukhari)


Membaca shalawat atas Nabi ketika berdo'a, sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : "Setiap do'a akan terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam." (HR. AI-Baihaqi, hadits hasan)


Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berpetualang di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku." (HR Ahmad, hadits shahih)


Bershalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam sangat dianjurkan, terutama pada hari Jum'at. Dan ia termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bertawassul dengan shalawat ketika berdo'a adalah dianjurkan. Sebab ia termasuk amal shalih. Karena itu, sebaiknya kita mengucapkan, "Ya Allah, dengan shalawatku untuk Nabimu, bukakanlah dariku kesusahanku... Semoga Allah melimpahkan berkah dan keselamatan untuk Muhammad dan keluarganya."



assalamualaikum wr wb
sebaiknya anda belajar lebih dalam dulu tentang itu dengan para ahlinya seperti dengan para kiayi NU atau dengan orang yang mengerti benar tentang ini , sebelumnya saya benar-benar minta maaf, bacaan shalawat itu tidak bisa langsung diartikan begitu saja, karena memerlukan pendalaman makna,yang intinya memuji nabi muhammad s.a.w dan akhirnya mencintai rasulullah. oya kalau dengar kyai nu jgn negatif thinking dulu,karena pendapat macam bgini dapat memecah belah islam, terutama dari pihak nu, yang hanya berawal ketidak pahaman (maaf). saya menghargai maksud anda yang baik tapi alangkah baiknya jika jangan terlalu tergesa-gesa dalam memutuskan sesuatu, belajar dulu dari yang bener-bener mengerti, jangan seperti katak dalam tempurung( maaf), menurut anda benar belum tentu menurut benar menurut allah.
terimakasih dan mohon maaf.

Assalamualaikum Wr. Wb.
Dengan segala kerendahan hati saya meminta agar Team Ihya As-Sunnah lebih banyak belajar dan menggali makna tentang Shalawat sebelum mengeluarkan statemen seperti diatas yang menurut saya justru sangat MENYESATKAN umat .
terimakasih.

waduh seenak dengkulnya bilang sesat, bid'ah!!!!
ga bisa seperti itu, apa hak anda mengatakan seseorang sesat, bid'ah dll?
berarti dengan menyesatkan dan membid'ahkan orang lain, anda merasa diri anda yg paling benar!!!!
lebih baik anda melihat diri anda apa sudah beribadah dengan benar & maksimal sampai2 mencampuri ibadah orang lain dengan bershalawat!!!
klo memang itu benar berarti anda rajanya bid'ah dan sesat karena telah menuduh orang dengan label bid'ah dan sesat!!!
apakah Rasulullah mengajarkan seperti itu!!!!!
setau saya biasanya yg menuduh2 seperti itu terinfeksi paham wahabi, ketahuilah paham yg anda bangga2kan dengan berdalih pemurnian islam sudah terkontaminasi dengan pemikiran barat bukankah pendirinya adalah didikan inggris!!!!
berarti lebih bid'ah lagi dunk berkiblat ke inggris.......oiya lupa, dan juga sesat!

Kita banyak mendengar lafazh-lafazh bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam yang diada-adakan (bid'ah) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, para sahabat, tabi'in, juga tidak oleh para imam mujtahid. Tetapi semua itu hanyalah buatan sebagian masyayikh (para tuan guru) di kurun belakangan ini. Lafazh-lafazh shalawat itu kemudian menjadi terkenal dikalangan orang awam dan ahli ilmu, sehingga mereka membacanya lebih banyak daripada membaca shalawat tuntunan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Bahkan mungkin mereka malah meninggalkan lafazh shalawat yang benar, lalu menyebarluaskan lafazh shalawat ajaran para syaikh mereka.


Jika kita renungkan mendalam makna shalawat-shalawat tersebut, niscaya kita akan menemukan di dalamnya pelanggaran terhadap petunjuk Rasul, orang yang kita shalawati.


Di antara shalawat-shalawat bid'ah tersebut adalah:


1. Shalawat Basyisyiyah


lbnu Basyisy berkata, "Ya Allah, keluarkanlah aku dari lumpur tauhid. Dan tenggelamkanlah aku dalam mata air lautan keesaan. Dan lemparkanlah aku dalam sifat keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar atau merasakan kecuali dengannya."


Ini adalah ucapan orang-orang yang menganut paham Wahdatul Wujud.Yaitu suatu paham yang mendakwakan bahwa Tuhan dan makhIuk-Nya bisa menjadi satu kesatuan.Mereka menyangka bahwa tauhid itu penuh dengan lumpur dan kotoran, sehingga mereka berdo'a agar dikeluarkan daripadanya.


Selanjutnya, agar ditenggelamkan dalam lautan Wahdatul Wujud.Sehingga bisa melihat Tuhannya dalam segala sesuatu. Bahkan hingga seorang pemimpin mereka berkata, "Dan tiadalah anjing dan babi itu, melainkan keduanya adalah tuhan kita. Dan tiadalah Allah itu, melainkan pendeta di gereja. "


Orang-orang Nasrani menyekutukan Allah (musyrik) ketika mereka mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah anak Allah. Adapun mereka, menjadikan segenap makhluk secara keseluruhan sebagai sekutu-sekutu Allah! Mahatinggi Allah dan apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrik.


Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, berhati-hatilah terhadap lafazh-lafazh bacaan shalawat bid'ah, karena akan menjerumuskanmu dalam perbuatan syirik. Berpegang teguhlah dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, seorang yang tidak mengatakan sesuatu menurut kehendak hawa nafsunya. Dan janganlah engkau menyelisihi petunjuknya, "Barangsiapa melakukan suatu amalan (dalam agama) yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak." (HR. Muslim)


2. Shalawat Nariyah


Shalawat nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, atau hajat dikabulkan, niscaya akan terpenuhi.


Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafazh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Secara lengkap, lafazh shalawat nariyah itu adalah sebagai berikut,"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan sahabat-nya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui."


Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo'a.Setiap muslim tidak boleh berdo'a dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit-nya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).


Al-Qur'an mengingkari berdo'a kepada selain Allah, baik kepada para rasul atau wali. Allah berfirman,


Katakanlah, 'Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memin-dahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan siksaNya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti." (Al-lsra': 56-57)


Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdo'a dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih dan jenis makhluk jin.


Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur'an menyeru kepada beliau untuk memaklumkan,


"Katakanlah, 'Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raaf: 188)


"Seorang laki-laki datang kepada Rasululllah Shallallaahu 'alaihi wa Salam lalu ia berkata kepada beliau, 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu." Maka Rasulullah bersabda, 'Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah, "Hanya atas kehendak Allah semata." (HR. Nasaa'i, dengan sanad shahih)


Di samping itu, di akhir lafazh shalawat nariyah tersebut, terdapat pembatasan dalam masalah ilmu-ilmu Allah. Ini adalah suatu kesalahan besar.Seandainya kita membuang kata "Bihi" (dengan Muhammad), lalu kita ganti dengan kata "BiHaa" (dengan shalawat untuk Nabi), niscaya makna lafazh shalawat itu akan menjadi benar. Sehingga bacaannya akan menjadi seperti berikut ini:"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk Muhammad, yang dengan shalawat itu diuraikan segala ikatan ..."


Hal itu dibenarkan, karena shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam adalah ibadah, sehingga kita boleh bertawassul dengannya, agar dihilangkan segala kesedihan dan kesusahan.Kenapa kita membaca shalawat-shalawat bid'ah yang merupakan perkataan manusia, kemudian kita meninggalkan shalawat lbrahimiyah yang merupakan ajaran AI-Ma'sum?


3. Shalawat dalam Kitab Ad'iyatush Shabaahi wal Masaa'i.

Dalam kitab Ad'iyatush Shabaahi wal Masaa'i, karya seorang syaikh besar dari Suriah Ia mengatakan, "Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu."


"Segala sesuatu", berarti termasuk di dalamnya Adam, lblis, kera, babi, lalat, nyamuk dan sebagainya. Adakah seorang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya Muhammad? Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan, juga mengetahui dari apa Adam diciptakan, sebagaimana dikisahkan dalam AI-Qur'an,

"Iblis berkata, 'Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah." (Shaad: 76)


Ayat di atas mendustakan dan membatalkan ucapan syaikh tersebut.Termasuk lafazh shalawat bid'ah adalah ucapan mereka, "Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wahai Rasulullah. Telah sempit tipu dayaku maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah."


Bagian pertama dari shalawat ini adalah benar, tetapi yang berbahaya dan merupakan syirik adalah pada bagian kedua. Yakni dari ucapannya:

Hal ini bertentangan dengan firman Allah;"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepadaNya?" (An-Naml: 62)


Dan firman Allah "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri." (Al-An'am: 17)


Sedangkan Rasulullah sendiri, manakala beliau ditimpa suatu kedukaan atau kesusahan, beliau berdo'a, "Wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku Memohon pertolongan-Mu." (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)


Jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita diperbolehkan mengatakan kepada beliau, "Perkenankanlah hajat kami, dan tolong-lah kami?"Lafazh ini bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam: "Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)


4. Shalawat AI-Fatih

Lafazhnya:"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup?"


Orang yang mengucapkan shalawat ini menyangka, bahwa barangsiapa membacanya maka baginya lebih utama daripada membaca khatam Al-Qur'an sebanyak enam ribu kali. Demikian, seperti dinukil oleh Syaikh Ahmad Tijani, pemimpin thariqah Tijaniyah.


Sungguh amat bodoh jika terdapat orang yang berakal mempercayai hal tersebut, apatah lagi jika ia seorang muslim. Sungguh amat tidak mungkin, bahwa membaca shalawat bid'ah tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur'an sekali, apatah lagi hingga enam ribu kali. Suatu ucapan yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.


Adapun menyifati Rasulullah dengan "Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup" secara mutlak, tanpa membatasinya dengan kehendak Allah, maka adalah suatu kesalahan. Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam tidak membuka kota Makkah kecuali dengan kehendak Allah. Beliau juga tidak mampu membuka hati pamannya sehingga beriman kepada Allah, bahkan ia mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Bahkan dengan tegas Al-Qur'an menyeru kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, ..." (Al-Qashash: 56)"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (AI-Fath: 1)


5. Shalawat dalam Kitab Dalaa 'ilul Khairaat


Pada bagian ke tujuh dari kitabnya mengatakan, "Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad selama burung-burung merpati berdengkur dan jimat-jimat (tamimah) bermanfaat."

Tamimah (suatu bentuk jimat) yaitu tulang, benang atau lainnya yang dikalungkan di leher anak-anak atau lainnya untuk menangkal atau menolak 'ain (pengaruh mata dengki).

Perbuatan tersebut tidak memberi manfaat kepada orang yang mengalungkannya, juga tidak terhadap orang yang dikalungi, bahkan ia adalah di antara perbuatan orang-orang musyrik.Rasulullah bersabda:"Barangsiapa mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik". (HR. Ahmad, hadits shahih)


Lafazh bacaan shalawat di atas, dengan demikian, secara jelas bertentangan dengan kandungan hadits, karena lafazh tersebut menjadikan syirik dan tamimah sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Terdapat lagi lafazh bacaan shalawat dalam kitab Dalaa 'ilul Khairaat sebagai berikut: "Ya Allah limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tak tersisa lagi sedikit pun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad, sehingga tak tersisa sedikit pun dari rahmat."

Lafazh bacaan shalawat di atas, menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Allah membantah ucapan mereka dengan firman-Nya, "Katakanlah, 'Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (AI-Kahfi: 109)



6. Shalawat yang disebutkan salah seorang sufi dari Libanon dalam kitabnya yang membahas tentang keutamaan shalawat, lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ اْلأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ

“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”

Padahal sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah, keduanya termasuk sifat-sifat Allah Azza wajalla. Maka, bagaimana mungkin kedua sifat Allah ini diberikan kepada salah seorang dari makhluk-Nya padahal Allah Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)



7. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)

Lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah.”

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-28 8)

Cukuplah keutamaan palsu yang disebutkannya, yang menunjukkan kedustaan dan kebatilan shalawat ini.




8. Shalawat Badar

Shalawat Badar

Lafadz shalawat ini sebagai berikut:

shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah

shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah

tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah

wa kulli majahid fillah

bi ahlil badri ya Allah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah

Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah

Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah


Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:

1. Penyebutan Nabi dengan habibillah

2. Bertawassul dengan Nabi

3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr


Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.

Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah Idan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.

Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ

“Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)



Demikian pula di antara doa Nabi: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 199)


Bertawassul dengan nama Allah I seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masih hidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawassul terlarang.


Dari semua penjelasan diatas maka tinggalkanlah semua shalawat-shalawat bid’ah sebab dapat membuat kita syirik pada Allah.Sedangkan shalawat yang disyari’ahkan adalah yang telah dituntunkan Allah dan Rasulnya.Berikut ini penjelasan keutamaan membaca shalawat untuk Rasulullah yang disyari’ahkan:

Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56)


Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu 'Aliyah berkata, "Shalawat Allah adalah berupa pujian-Nya untuk nabi di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat adalah do'a (untuk beliau)." Ibnu Abbas berkata, "Bershalawat artinya mendo'akan supaya diberkati."

Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yaitu, "Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala menggambarkan kepada segenap hamba-Nya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasih-Nya di sisi-Nya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya, sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta."


Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo'akan dan bershalawat untuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain Allah, atau membacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia.


Bacaan shalawat untuk Rasulullah yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda, "Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia." (HR Al-Bukhari dan Muslim)


Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah untukku. Karena se-sungguhnya barangsiapa yang bershalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia ada-lah suatu tempat (derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia berhak menerima syafa'atku." (HR. Muslim)


Do'a memintakan wasilah seperti yang diajarkan Rasulullah dibaca dengan suara pelan. Ia dibaca seusai adzan dan setelah membacakan shalawat untuk nabi. Do'a yang diajarkan beliau yaitu: "Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan." (HR. Al-Bukhari)


Membaca shalawat atas Nabi ketika berdo'a, sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : "Setiap do'a akan terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam." (HR. AI-Baihaqi, hadits hasan)


Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berpetualang di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku." (HR Ahmad, hadits shahih)


Bershalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam sangat dianjurkan, terutama pada hari Jum'at. Dan ia termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bertawassul dengan shalawat ketika berdo'a adalah dianjurkan. Sebab ia termasuk amal shalih. Karena itu, sebaiknya kita mengucapkan, "Ya Allah, dengan shalawatku untuk Nabimu, bukakanlah dariku kesusahanku... Semoga Allah melimpahkan berkah dan keselamatan untuk Muhammad dan keluarganya."

2 komentar:

  1. Aduh jadi bingung nih, jujur saya awan tentang Islam dan ingin belajar tentang Islam, tp baru tau ternyata Shalawat yg sering diucapkan oleh mayoritas umat islam di Indonesia ternyata masih Kontroversi yah

    BalasHapus
  2. Posisi al-Kholiq dan Makhluk
    cukup signifikan dalam konteks ilmu tauhid ada garis demarkasi yang jelas dan tegas (al-hadd al-fashil) dalam rangka menilai dan menakar apakah seseorang masih dianggap sebagai muslim atau sudah dianggap menyeleweng dan tersesat dari ajaran Islam.
    secara sederhana dapat ditegaskan bahwa al-Kholiq adalah merupakan Dzat penentu segalanya yang mendatangkan manfaat dan mudhorot dan segala sesuatu terjadi didunia ini.
    ini adalah posisi al-Kholiq yang tidak dimiliki makhluk. sedangkan makhluk hanyalah merupakan hamba yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat, bahaya, kematian, kehidupan dll.(lihat QS. al-A'rof 188) kesadaran akan posisi al-Kholiq dan al-Makhluk ini pada akhirnya menjadikan kita termasuk dalam kategori syirik atau tidak. ketika seseorang mencoba mencampur adukkan antara posisi al-Kholiq dengan makhluk, misalnya dengan meyakini bahwa sebagian makhluk memiliki kemampuan untuk mendatangkan mudhorot dan manfa'at tanpa dengan izin dan kehendak ALlah SWT maka dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan telah melakukan syirik nyata. ziarah kubur, bertawassul, bersholawat, istighosah, membaca burdah dll tidak berefek apa apa terhadap kemurnian Iman dan Tauhid kita, ketika kita tetap berkeyakinan bahwa Dzat yang mampu mendatangkan manfa'at dan mudhorot hanyalah ALlah Azzawajalla.
    HAKEKAT TAWASSUL;
    Para 'Ulama' seperti al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin al-Subki menegaskan bahwa tawassul, istisyfa', istighosah, isti'anah, tajawwuh, dan tawajjuh, memiliki makana hakekat yang sama. mereka mendefinisikan tawassul dan istilah istilah lain yang sama- denagan definisi sbb: "Memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya(keburukan) kepada ALlah dengan menyebut nama Nabi atau Wali untuk memuliakan (Ikram) keduanya(al-Hafizh al-'Abdari, al-Syarh al-Qawim, hal 378)".
    sebagian kalangan memiliki persepsi bahwa tawassul adalah memohon kepada seorang Nabi atau Wali untuk mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya dengan keyakina bahwa Nabi atau Wali itulah yang mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya secara hakiki. persepsi yang keliru tentang tawassul ini kemudian membuat mereka menuduh orang yang bertawassul kafir, dan musyrik. padahal hakikat tawassul dikalangan pelakunya adalah memohon datangnya manfaat(kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan) kepada ALlah dengan menyebut nama seorang Nabi atau Wali untuk memuliakan keduanya.
    ide dasar tawassul adalah: ALlah SWT telah menetapkan bahwa biasanya urusan-urusan dunia terjadi berdasarkan hukum kausalitas;sebab akibat. contoh: ALlah Maha Kuasa memberi Pahala kepada manusia tanpa beramal sekalipun, namun kenyataannya tidak demikian. ALlah SWT memerintahkan manusia untuk beramal sholeh dan mencari hal hal yang mendekatkan diri kepada ALlah SWT;(lihat, QS. al-Baqoroh:45 dan QS. al-Ma'idah:35). ...........to be continue sabar ya...

    BalasHapus