Senin, 02 Februari 2009

MAIMUNAH BINTI HARITS - UMMAHATUL MUKMININ TERAKHIR

« JUWAIRIYAH BINTI HARITS - WANITA YANG MENDATANGKAN BARAKAH DAN KEBAIKAN BERHAK BAGI KAUMNYA


September 15th, 2008 at 2:56am |

Ia adalah Maimunah binti Harits bin Huzn bin Bujair bin Al-Hazm bin Ruwaibahbin Abdullah bin Hilal bin ’Amir bin Sha’sha’ah Al-Hilaliyah. Ia adalah saudara perempuan Ummul Fadhl isteri Abbas dan merupakan bibi Khalid bin Walid serta Ibnu Abbas. Semoga Allah meridhai semua mereka. Maimunah termasuk bagian dari pemimpin para wanita yang mempunyai keutamaan yang masyur dan nasab yang tinggi.

Awalnya Maimunah menikah dengan Mas’ud bin ’Amr Ats-Tsaqafy sebelum ia masuk Islam dan tinggal bersamanya. Tetapi ia selalu bolak-balik ke rumah saudarinya yaitu Ummul Fadhl, sehingga ia mendengar dari saudarinya itutentang sebagian pelajaran-pelajaran Islam dan kabar-kabar kaum muslimin yang berhijrah. Demikian pula ia mendengar berita tentang perang Badar dan Uhud, sehingga semuanya itu memberikan pengaruh yang dalam pada dirinya.

Tatkala terdengar berita kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar, Maimunah berada di rumah saudari kandungnya yaitu Ummul Fadhl. Ia merasa senang dan gembira dengan kegembiraan yang tak bisa digambarkan dengan apapun. Kemudia ketika ia kembali ke rumah suaminya, ia mendapati suaminya penuh dengan kesedihan. Lalu keduanya cekcok sehingga menimbulkan perceraian. Ia keluar dari rumah tersebut dan tinggal di rumah Abbas bin Abdul Muthalib.

Saat batas waktu yang dijanjikan dalam perjanjian Hudaibiyah tiba, dimana Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam diperbolehkan memasuki Mekkah dan bertempat tinggal di dalamnya selama 3 hari. Disela-sela itu mereka menunaikan manasik haji mereka, dan orang-orang Quraisy mengosongkan Mekkah untuk mereka.

Pada hari yang dijanjikan ini, kaum muslimin masuk Mekkah dengan aman sambil memotong dan memendekkan rambut mereka dalam keadaan tidak mendapati ketakutan sama sekali. Benarlah janji yang dijanjikanitu, sehingga suara orang yangberiman saling bersaut-sautan dengan suara yang tinggi:

”Aku sambut panggilan-Mu ya Allah ya Tuhan kami, aku sambut panggilan-Mu, aku sambut panggilan-Mu yang tidak ada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu.”

Suara-suara tersebut memenuhi sudut-sudut kota mekkah, menggoncangkan bumi yang berada di bawah telapak-telapak kaum musyrik.

Mereka (kaum musyirikin) bergegas menuju ke bukit-bukit dan gunung-gunung, dikarenakan mereka tidak mampu melihat Muhammad dan para shahabatnya yang kembaali ke Mekkah dengan terang-terangan, dengan penuh kekeuatan dan kemuliaan. Yang tersisa di Mekkah adalah laki-laki dan wanita yang menyembunyikan keimanan mereka serta mereka dalam keadaan mengimani bahwa hari kemenangan ini sudah dekat. Maimunah adalah salah satu dari golongan orang-orang yang menyembunyikan keimanannya. Ia mendengar teriakan yang sangat agung yang mengagungkan dan membesarkan Allah. Kemudian Maimunah tidak berhenti di sisi batas keimanan yang tersembunyi tersebut. Bahkan ia ingin membawa semua dirinya ke dalam Islam dengan diiringi rasa kemuliaan yang jujur. Dalam rangka menunjukkan kecintaanya terhadap Islam kepada para pembesar kabilah, serta kecintaanya untuk bernaung di bawah atap kenabian, agaria bisa minum dari sumber air kenabian tersebut, sehingga bisa memenuhi karakternya yang haus terhadap aqidah Islam yang sangat menakjubkan, yang akan mengubah kehidupannya secara sempurna.

Ia memberitahukan kepada saudari kandungnya Ummul Fadhl tentang keinginan hatinya agar dapat menjadi salah seorang ibu dari ibu-ibu yang beriman (Ummahatul Mukminin). Ummul Fadhl membicarakan hal itu kepada suaminya Abbas dan ia menjadikan suaminya sebagai pengantarnya.

Ketika Abbas tidak meragukan tekad Maimunah tersebut, ia segera pergi ke hadapan Nabi j, dan menjelaskan kepada beliau agar beliau mau menikahinya. Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam menyetujui untuk menikahi Maimunah dan beliau memberikan mahar 400 dirham kepadanya. Dalam suatu riwayat menyebutkan bahwa Maimunahlah yang menghibahkan dirinya kepada Nabi j, lalu Allah Maha Suci dan Maha Tinggi menurunkan ayat tentangnya:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar